Sholat, Dokter, dan Pasien

Dua waktu sholat telah lewat. Saya sengaja berlama-lama di salah satu bangsal rumah sakit sambil mengerjakan tugas dan ingin melihat berapa pasien yang melakukan sholat ketika waktu sholat tiba sampai berakhir. Namun apa yang terjadi kemudian adalah saya tidak menemukan satu pasienpun yang melakukan sholat. Bangsal lain sepertinya tidak jauh berbeda. Kalaupun ada yang sholat, tidak cukup dari separuh pasien.

Saya pernah bertanya kepada salah seorang pasien kenapa tidak sholat, tp dengan enteng dia mengatakan akan sholat kalau sudah sembuh. Jadi kalau tidak sembuh bagaimana? Apa tidak akan sholat? Entahlah.. Sy hanya bisa menjelaskan apa yang bisa saya jelaskan. Baca lebih lanjut

Iklan

Sholat dengan Santun

sholat

Saya tinggal di suatu rumah yang berhadapan langsung dengan speaker salah satu musholla di kota Surabaya. Musholla yang menjadi tempat ibadah warga  satu RT itu kerap menjadi biang keributan dan mengganggu ketentraman warga, terutama ketentraman saya. Jangan harap bisa sholat dengan tenang di rumah (bila terlambat sholat berjamaah) bila speaker musholla itu telah dihidupkan… Ributnya minta ampun. Saya terus terang tergangu. Saya pikir semua orang akan terganggu. Apalagi suara imam yang memimpin sholat jama’ah itu melengking serak-serak banjir. Sebelum adzan dikumandangkan, suara orang mengaji sudah dibunyikan lewat loudspeaker masjid atau musholla. Tidak sebagaimana di zaman Rasulullah, tak ada bunyi-bunyian lain sebelum azan selain azan merdu yang dikumandangkan oleh Bilal. Musholla yang seharusnya menjadi sumber kedamaian itu menjadi sumber ketidaktenangan masyarakat di sekitarnya. Baca lebih lanjut