Vonis Dokter

“Saya divonis kanker oleh dokter disana. Katanya kemungkinan sembuhnya hampir tidak ada.” Lelaki separuh baya itu meraba perutnya yang membesar sambil berbicara pada saya.

” Makanya saya dirujuk kesini, karena di rumah sakit disana belum ada obatnya.”

Frasa ‘vonis dokter’ itu kembali saya dengar dari lisan pasien. Padahal setahu saya vonis itu hanya dikenal dalam dunia pengadilan. Ada kesan bahwa apa yang dikatakan oleh dokter tentang penyakit pasien adalah sesuatu yang tidak bisa berubah sebagaimana keputusan seorang hakim pada terdakwa suatu kasus. Baca lebih lanjut

Iklan

Sholat, Dokter, dan Pasien

Dua waktu sholat telah lewat. Saya sengaja berlama-lama di salah satu bangsal rumah sakit sambil mengerjakan tugas dan ingin melihat berapa pasien yang melakukan sholat ketika waktu sholat tiba sampai berakhir. Namun apa yang terjadi kemudian adalah saya tidak menemukan satu pasienpun yang melakukan sholat. Bangsal lain sepertinya tidak jauh berbeda. Kalaupun ada yang sholat, tidak cukup dari separuh pasien.

Saya pernah bertanya kepada salah seorang pasien kenapa tidak sholat, tp dengan enteng dia mengatakan akan sholat kalau sudah sembuh. Jadi kalau tidak sembuh bagaimana? Apa tidak akan sholat? Entahlah.. Sy hanya bisa menjelaskan apa yang bisa saya jelaskan. Baca lebih lanjut

Mengurangi Resiko Kanker Prostat

Kanker prostat merupakan kanker terbanyak pada pria. Tercatat sebagai kanker pembunuh kedua pada pria setelah kanker paru-paru. Resiko menderita penyakit ini meningkat dengan makin bertambahnya usia. Paling banyak ditemukan pada usia diatas 60 tahun. Namun tidak jarang di usia di kurang dari 50 tahun.Seorang pria yang memiliki ayah atau paman yang menderita kanker prostat memiliki resiko tinggi untuk menderita kanker ini. Jika ayah atau paman terkena kanker prostat, maka keturunan laki-laki terdekatnya akan 2,87-4,5 kali lebih besar terkena kanker prostat dibandingkan dengan mereka yang ayah atau pamannya tidak mempunyai kanker prostat.Faktor lain yang diduga menyebabkan seorang pria mudah menderita kanker ini antara lain gaya hidup yang tidak sehat dan jarang ejakuasi. Baca lebih lanjut

Memenjarakan Mantri dan Bidan Desa

Kenangan bersama para mantri dan bidan desaBeberapa  waktu yang lalu ada seorang mantri desa dipidana 3 bulan hukuman penjara dari PN Tenggarong, Kalimantan Timur. Majelis hakim menyatakan sang mantri terbukti bersalah melanggar UU 36/2009 tentang Kesehatan yaitu tidak punya wewenang memberikan resep obat golongan G yang seharusnya hanya boleh diresepkan oleh dokter.

Hal ini jelas membuat trauma para mantri dan bidan desa. Keterbatasan jumlah dokter di daerah pedalaman dan terkonsentrasinya dokter di perkotaan mengharuskan mantri dan bidan desa berperan sebagai dokter. Banyak tindakan medis yang seharusnya tidak boleh mereka lakukan secara hukum, namun mesti dilakoni demi menolong pasien. Baca lebih lanjut

Pulang Paksa

Tubuh ringkih itu tergolek lemah di atas ranjang pasien. Perutnya membuncit. Tulang pipinya menonjol pertanda kurang jaringan lemak. Raut wajahnya tidak sesuai dengan umurnya yang masih mudah namun terlihat sudah tua. Bisa karena proses penyakitnya. Namun bisa juga akibat tidak punya uang untuk membeli makanan. Keluarganya mengemasi barang bawaaan. Bersiap untuk pulang sebelum mendapatkan pengobatan apapun. Aku hanya bisa menyodorkan surat penolakan tindakan medis untuk ditanda tangani oleh keluarganya. Baca lebih lanjut

Wajib Resep Obat Generik

“Dok, saya mau obat yang paling baik untuk anak saya. Kalau bisa besok sudah sembuh. Besok dia mesti masuk sekolah” Ibu itu nampak harap-harap cemas di samping anaknya yang baru mengalami kecelakaan.

“Waduh, gak ada obat yang semujarab itu, Bu!” Saya hanya bisa menjelaskan proses sembuhnya luka. Kulit testis anaknya terbuka lebar karena jatuh dari motor. Pada beberapa bagian tubuh lain juga luka-luka. Baca lebih lanjut

Balada Jamkesmas

“Dok, bagaimana ya.. Saya terus terang tidak punya uang untuk membiayai pengobatan suami saya.” Seorang ibu-ibu separuh baya itu berbicara padaku. Ada raut sedih dan khawatir yang terukir di wajahnya.

“Bu, usahakan  ada yang mengurus Jamkesmasnya besok ya.. Kalau tidak Bapak akan dikenakan bayaran sebagai pasien umum. Kondisi Bapak gawat darurat, harus ditangani secepatnya” Saya mencoba menjelaskan pada istri pasien  yang sakit perut dan  tidak bisa kencing beberapa hari di ruang gawat darurat. Baca lebih lanjut