Kosong

SenjadiBaiturrahmanBerisi kosong
Nalar ompong
Hati berbohong
Kering kantong

Menembus lorong
Tanpa ada pendorong
Hanya ingin melolong
Walau jiwa melompong

Dasar mental kepompong
Tak pernah mau ditodong
Lebih sibuk nongkrong
Membiarkan waktu merongrong

Kapan hidup akan plong
Bila diri bak kedondong
Tampak mulus laksana bokong
Namun hati menjerit di kolong

“kosong”

Iklan

Belajar untuk Mengajar

Salah satu program yg wajib dilalui ketika mengikuti pendidikan dokter spesialis di Unair adalah program MKDU yg katanya bertujuan untuk standarisasi ilmu para peserta PPDS yg berasal dari berbagai universitas yg kemungkinnanya memiliki standar yg berbeda.

Hari ini sy ikut kuliah “belajar mengajar” yg awalnya saya kurang berminat. Tp ternyata kuliahnya lumayan menarik. Calon dokter spesialis katanya harus bisa menguasai teknik belajar yg baik agar bisa menyelesaikan studinya dan  belajar untuk mengajar karena kemungkinan suatu saat nanti akan mengajar baik itu perawat, dokter muda, maupun pada sesama dokter spesialis. Ya.. sudahlah sy mmg wajib  ikut. Baca lebih lanjut

Orang Miskin juga Bisa Sekolah

Sebenarnya saya masuk kategori orang miskin juga, tapi alhamdulillah saya bisa sekolah sampai jadi dokter. Rencananya malah mau sekolah lagi.. hehe. Sejak SD sampai SMP di tahun 1986-1992, saya sekolahnya di kampung sono yang tidak ada di peta dunia. Bayaran sekolah masih murah, bisa nyicil lagi. Waktu SMA saya sudah pindah ke kota, ngekos sama sodara2 dengan sewa kos 300 ribu pertahun. Biaya hidup masih murah, dan kalau kehabisan uang, kalung sodari perempuan yang digadaikan. Baca lebih lanjut

La Jampang Main Futsal

Suatu hari saya diajak main  futsal. Sebenarnya saya tidak pernah main futsal, tapi pernah main bola. Karena belum pernah main, jadinya belum tahu sama sekali caranya main. Kok lapangannya kecil ya… pemainnya juga sedikit. Akhirnya  saya milih jadi kiper dulu supaya bisa tahu cara main futsal dari pemain lain. Tapi kalo jadi kiper futsal, apa bolanya boleh ditangkap pake tangan ya..? Biasanya waktu kecil  dulu kalau main bola dengan jumlah pemain sedikit dan gawangnya kecil, bolanya gak boleh ditangkap pake tangan. Mau nanya sama kawan main jadi sungkan, nanti dibilang kampungan (padahal saya memang kampungan tapi gengsi 🙂 ) Baca lebih lanjut

Mengejar Mimpi

Hari ini sudah tanggal 22 Mei 2009. Hari2 terasa begitu cepat. Tinggal menunggu waktu ketika saya sudah harus meninggalkan salah satu tanah pengabdian di ujung barat gugusan pulau Nusantara yang hampir lepas dari NKRI ini. Aceh… berat rasanya untuk mengatakan selamat tinggal padamu. Namun itu harus terjadi. Hidup tidak pernah datar.  Kalau bisa harus menanjak ke arah yang lebih baik. Pengembaraan mesti berlanjut… jalan masih panjang. Baca lebih lanjut

Journey to the next level of dream

Segala puji bagimu ya Allah… Engkau Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Segalanya akan terjadi jika menghendaki… Hanya itu yang bisa aku lakukan.  NikmatMu begitu tak terhingga.  Secara logika sepertinya saya sulit untuk lulus. Namun jika Engkau berkehendak, segalanya dapat terjadi. Akhirnya tahap awal dari sebuah mimpi itu dimulai. Ini bukanlah episode akhir mimpi, namun segalanya adalah permulaan. Baca lebih lanjut

Teman di rantau orang

Bila kita berada di tempat rantau yang menjadi saudara kita adalah orang yang sekampung dengan kita sebagai sesama perantau. Orang yang wajahnya perpampang diatas adalah teman terbaik saya semenjak kuliah di Makassar. Sampai sekarang kami mash tetap bersama di rantau orang tepatnya di Jeuram Kabupaten  Nagan Raya, Nanggroe Aceh Darussalam. Sy biasanya memanggil dia dengan Mbroks, yakni singkatan dari Ambroxol (salah satu jenis obat batuk) karena namanya yang mirip dengan nama obat tersebut.
Saya pernah menyuntik dan menginfus beliau. Ternyata dokter bisa sakit juga ya ? (pasien yg bilang begitu)… dan beliau juga pernah bilang ke saya… haruskah kita terkubur di Nagan Raya ?… Hmm… hanya Allah yang tahu.