Gelang Cinta

Tuliskan apa yang kamu rasakan

Rasakan apa yang kamu pikirkan

Pikirkan apa yang kamu tuliskan

Dulu kadang aku curiga pada diri sendiri  bahwa aku manusia berhati badak. Namun tatkala aku menemukan dirinya, semua berubah. Hembusan cinta yang tak pernah padam merubah bentuk hatiku yang kasar dan datar menjadi  bentuk daun waru nan indah memerah. Aku tak perlu lagi meminjam hati Nabi Adam untuk bisa merindu Siti Hawa. Tak butuh pikiran Majnun yang gila mencintai Laila. Roman Romeo dan Juliet tak perlu kukhatamkan agar bisa ‘sedikit’ mengerti makna cinta. Baca lebih lanjut

Malpraktek Lagi

malpraktekSiang yang panas menyengat. Poli rawat jalan puskesmas tempat saya bertugas baru usai. Poli rawat jalan ini buka sejak pukul 08.15 sampai pukul 12.15. Pasien sekitar 50 orang hari ini bisa diselesaikan dalam waktu 4 jam. Padahal standar pelayanan sebenarnya minimal satu pasien ditangani dalam 15 menit. Waktu 4 jam seharusnya hanya untuk 16 pasien namun saya menggunakannya untuk 50 orang pasien :-). Berarti satu pasien bisa dilayani hanya dengan 5,2 menit.  Seharusnya perlu waktu 750 menit (12,4 jam). Tangan masih pegal setelah menulis status dan resep 50 pasien. Diagnosa kilat, resep komplit ala puskesmas, bila perlu periksa laboratorim sedehana atau menulis resep untuk diambil di apotek terdekat. Istrahat dulu sebebentar di UGD. Ada beberapa pasien di dalam yang hanya ganti perban luka saja. Perawat UGD yang melayani mereka. Baca lebih lanjut

Kosong

SenjadiBaiturrahmanBerisi kosong
Nalar ompong
Hati berbohong
Kering kantong

Menembus lorong
Tanpa ada pendorong
Hanya ingin melolong
Walau jiwa melompong

Dasar mental kepompong
Tak pernah mau ditodong
Lebih sibuk nongkrong
Membiarkan waktu merongrong

Kapan hidup akan plong
Bila diri bak kedondong
Tampak mulus laksana bokong
Namun hati menjerit di kolong

“kosong”

Senyum Tercekat

cintaku
Senyum tercekat
Karena dua raga lagi tak dekat
Walau dua hati melekat
Namun mata tak bisa memandang lekat

Ruang dan waktu menghitam pekat
Memisah cinta yang sudah terikat
Demi menggenggam sebuah hasrat
Agar hidup lebih bermartabat

Jikalau nanti asaku mangkat
Kuharap engkau tetap merapat
Walau diri tak lagi berharkat
Tetap bersamaku sampai akhirat

Kutitip salam lewat malaikat
Sampaikan cintaku yang tak bersyarat
Cinta suci teramat sangat
Menanti rengkuhan yang erat hangat

Surabaya, 18 Agustus 2009
Dalam kungkungan rindu


Ghibahtainment dan Egosentris

MarshandaTidak selamanya dunia ini indah dan hidup itu mulus. Derita dan bahagia bisa silih berganti. Dalam hidup pasti ada masalah. Karena hidup itu untuk bermasalah dan mencari masalah. Salah satu hal yang membuat kita bahagia adalah tatkala kita “tidak punya masalah” atau berhasil menyelesaikan masalah yang mendera fisik maupun batin. Masalah pada dasarnya adalah stessor yang bisa mengganggu keseimbangan jiwa seseorang. Bila masalah itu tidak terselesaikan dan muncul masalah-masalah lain dengan tingkat kesukaran yang sama atau lebih dan tanpa penyelsaian, maka seseorang bisa mengalami “dekompesasi jiwa”. Hal ini bisa terjadi pada semua orang, termasuk artis seperti Marshanda. Baca lebih lanjut

Lagu Zaman Sekarang Kebanyakan Patologis

Mbah SuripTadi malam saya sempat mendengar syair lagu Mbah Surip yang lagi naik daun itu. Saya melihat ada hal yang patologis disetiap tema nyanyian. Mungkin karena isi lagu yg patologis inilah yg menyebabkan lagu ini menarik dan hidup serta nyaman terdengar di hampir setiap telinga yg mendengarnya. Lagu aneh tapi menghibur. Beberapa syairnya gue bangets 🙂

Salah satu syair lagu yg nyantol benar di telingaku adalah :
Barang siapa yang ingin hidup awet muda,bahagia di dunia ini, kurangi tidur, banyakin kopi :-).. Ha.. Ha…Ha.. I love you full..Sebagai pecandu kopi, tentu saja saya sangat setuju. Hidup ini rasanya tidak indah kalau tidak ada kopi. Walau ukuran kebahagiaan bukanlah kesanggupan kita untuk menenggak kopi, namun kopi memang memberikan stimulus untuk ceria dan bahagia. Baca lebih lanjut

Bila Azzam tak Lagi Bulat

Masih basah kenangan indahJihad
Zaman cemerlang era gemilang
Ketika Rasul ada di sisi
Para sahabat mentadbir bumi

Zaman nubuwah era khulafah
Islam laksana api yang membara
Menerangi teman dan juga sahabat
Bahang panasnya membakar lawan Baca lebih lanjut