Salah Minum Obat

ilustrasi obat (tpgimages)Saya pernah bertugas sebagai dokter kontrak di salah satu puskesmas yang agak ‘ndeso’. Masyarakatnya pun masih minim pengetahuan tentang kesehatan. Masyarakat masih banyak yang menginginkan dokter harus datang ke rumah mereka bila ada warga yang sakit. Suatu hari saya punya pasien kejang demam (anak-anak).

“Dok, minta tolong…anak saya step (kejang) lagi ” Seorang ayah muda mendatangi saya untuk ketiga kalinya. Baca lebih lanjut

Iklan

Malpraktek Lagi

malpraktekSiang yang panas menyengat. Poli rawat jalan puskesmas tempat saya bertugas baru usai. Poli rawat jalan ini buka sejak pukul 08.15 sampai pukul 12.15. Pasien sekitar 50 orang hari ini bisa diselesaikan dalam waktu 4 jam. Padahal standar pelayanan sebenarnya minimal satu pasien ditangani dalam 15 menit. Waktu 4 jam seharusnya hanya untuk 16 pasien namun saya menggunakannya untuk 50 orang pasien :-). Berarti satu pasien bisa dilayani hanya dengan 5,2 menit.  Seharusnya perlu waktu 750 menit (12,4 jam). Tangan masih pegal setelah menulis status dan resep 50 pasien. Diagnosa kilat, resep komplit ala puskesmas, bila perlu periksa laboratorim sedehana atau menulis resep untuk diambil di apotek terdekat. Istrahat dulu sebebentar di UGD. Ada beberapa pasien di dalam yang hanya ganti perban luka saja. Perawat UGD yang melayani mereka. Baca lebih lanjut

Tips Menghindari & Menghadapi Tuntutan Pasien

malpraktekProfesi sebagai seorang dokter menurut kebanyakan orang adalah profesi mulia. Seseorang dengan predikat dokter seolah dituntut untuk ma’shum (tidak pernah salah) dalam menjalankan profesinya. Tidak banyak orang yang akan memperhitungkan kebaikan yang telah di lakukan dokter, tapi sekali melakukan satu kesalahan saja  maka dokter terancam masuk penjara dan mungkin akan kehilangan profesi sebagai dokter akibat tuntutan malpraktek atau delik hukum lainnya.

Sebenarnya tidak ada istilah malpraktek dalam ranah hukum Indonesia yang mengadopsi hukum Continental dari Belanda. Istilah malpraktek hanya ada pada hukum Anglosaxon seperti di Amerika Serikat. Dalam hukum pidana (KUHP), yang ada hanya kelalaian. Diharapkan dengan disahkannya Undang-Undang Kesehatan yang baru (2009), delik hukum dalam dunia kedokteran/kesehatan  kebanyakan tidak lagi terkait dengan masalah pidana. Baca lebih lanjut

Ayat Ayat Tembakau

undang undang kesehatanDepartemen Kesehatan Republik Indonesia seakan kelimpungan tatkala ‘ayat tembakau’ yang seharusnya ada dalam Undang-Undang Kesehatan 2009 raib entah kemana. Disebut “raib”, karena ayat itu masih termuat dalam naskah perundang-undangan yang disetujui rapat paripurna DPR, namun sudah tidak ada lagi ketika Depkes menerima salinan UU Kesehatan itu. Ada yang mengatakan kejadian ini adalah kesalahan teknis, namun tidak sedikit yang mentengarai adanya unsur kesengajaan atau kudeta redaksional terhadap ayat yang dimaksud. Baca lebih lanjut

Menyoal RUU Kesehatan dan Isu ‘Kesehatan Reproduksi’

Logo-Keluarga_BerencanaMungkin tidak banyak yang tahu, bahwa saat ini DPR sedang menggodok RUU Kesehatan yang baru, menggantikan UU Kesehatan No. 23 Tahun 1992. RUU Kesehatan yang sudah diproses beberapa tahun lalu itu sedianya akan disahkan menjadi UU September mendatang oleh DPR Periode 2004-2009. Namun, dengan sisa waktu yang tinggal dua bulan lagi, pengesahan UU tersebut kemungkinan bisa disahkan tahun ini, tetapi mungkin juga baru bisa disahkan oleh DPR hasil Pemilu 2009 atau DPR Periode 2009-2014. Baca lebih lanjut

Hak Pasien atas Informasi Medis

etik kedokteranSaat ini profesi kedokteran dan pelayanan kesehatan telah menjadi sasaran kritik dan sorotan media massa, terutama setelah adanya kasus Prita Mulyasari. Prita harus mendekam dalam penjara akibat e-mail kepada teman-temannya yang berisikan keluh kesahnya tentang pengalamannya di Rumah Sakit Omni tersebar luas di dunia maya. Kasus Prita menunjukkan hubungan antara dokter – pasien yang kurang lancar dan komunikasi yang kurang baik sehingga menimbulkan kesalahpahaman pasien terhadap dokter yang menanganinya. Masalah komunikasi dokter-pasien ini yang ditengarai menjadi biang kerok utama terjadinya masalah antara dokter dan pasien. Baca lebih lanjut

Belajar untuk Mengajar

Salah satu program yg wajib dilalui ketika mengikuti pendidikan dokter spesialis di Unair adalah program MKDU yg katanya bertujuan untuk standarisasi ilmu para peserta PPDS yg berasal dari berbagai universitas yg kemungkinnanya memiliki standar yg berbeda.

Hari ini sy ikut kuliah “belajar mengajar” yg awalnya saya kurang berminat. Tp ternyata kuliahnya lumayan menarik. Calon dokter spesialis katanya harus bisa menguasai teknik belajar yg baik agar bisa menyelesaikan studinya dan  belajar untuk mengajar karena kemungkinan suatu saat nanti akan mengajar baik itu perawat, dokter muda, maupun pada sesama dokter spesialis. Ya.. sudahlah sy mmg wajib  ikut. Baca lebih lanjut