Vonis Dokter

“Saya divonis kanker oleh dokter disana. Katanya kemungkinan sembuhnya hampir tidak ada.” Lelaki separuh baya itu meraba perutnya yang membesar sambil berbicara pada saya.

” Makanya saya dirujuk kesini, karena di rumah sakit disana belum ada obatnya.”

Frasa ‘vonis dokter’ itu kembali saya dengar dari lisan pasien. Padahal setahu saya vonis itu hanya dikenal dalam dunia pengadilan. Ada kesan bahwa apa yang dikatakan oleh dokter tentang penyakit pasien adalah sesuatu yang tidak bisa berubah sebagaimana keputusan seorang hakim pada terdakwa suatu kasus. Baca lebih lanjut

Memenjarakan Mantri dan Bidan Desa

Kenangan bersama para mantri dan bidan desaBeberapa  waktu yang lalu ada seorang mantri desa dipidana 3 bulan hukuman penjara dari PN Tenggarong, Kalimantan Timur. Majelis hakim menyatakan sang mantri terbukti bersalah melanggar UU 36/2009 tentang Kesehatan yaitu tidak punya wewenang memberikan resep obat golongan G yang seharusnya hanya boleh diresepkan oleh dokter.

Hal ini jelas membuat trauma para mantri dan bidan desa. Keterbatasan jumlah dokter di daerah pedalaman dan terkonsentrasinya dokter di perkotaan mengharuskan mantri dan bidan desa berperan sebagai dokter. Banyak tindakan medis yang seharusnya tidak boleh mereka lakukan secara hukum, namun mesti dilakoni demi menolong pasien. Baca lebih lanjut

Balada Jamkesmas

“Dok, bagaimana ya.. Saya terus terang tidak punya uang untuk membiayai pengobatan suami saya.” Seorang ibu-ibu separuh baya itu berbicara padaku. Ada raut sedih dan khawatir yang terukir di wajahnya.

“Bu, usahakan  ada yang mengurus Jamkesmasnya besok ya.. Kalau tidak Bapak akan dikenakan bayaran sebagai pasien umum. Kondisi Bapak gawat darurat, harus ditangani secepatnya” Saya mencoba menjelaskan pada istri pasien  yang sakit perut dan  tidak bisa kencing beberapa hari di ruang gawat darurat. Baca lebih lanjut

Jangan Begadang !

http://kudalumpingmakanpager.files.wordpress.com/2009/02/rhoma-irama.jpgBegadang jangan begadang
Kalau tiada artinya
Begadang boleh saja
Kalau ada perlunya…

Lagu Bang Roma itu sering saya langgar. Baris terakhir saya ganti dengan Begadang boleh saja, kalau ada kopinya 🙂 Padahal saya sendiri tahu bahwa begadang sebaiknya dhindari karena tidak baik untuk kesehatan dan memperberat mata untuk terbuka saat mau sholat malam atau sholat shubuh. Akhir-akhir ini saya sulit menutup mata sebelum  dini hari. Mungin pengaruh sering jaga di rumah sakit dan pengaruh ngeblog di kompasiana. Rhoma Irama dari jauh-jauh hari sudah mengingatkan kita untuk tidak begadang. Sebagaimana kata Bung Roma dalam lanjutan lagunya : Baca lebih lanjut

Mahalnya Sebuah Kentut

Baru-baru ini ada 2 orang rekan saya yang dioperasi di rumah sakit. Keduanya adalah dokter. Penyakit memang tidak mengenal siapa yang akan dihinggapinya dan dokter juga adalah manusia yang bisa sakit sebagaimana manusia lainnya. Teman saya yang pertama dirawat sebuah RS dengan tarif termurah 500 ribu rupiah permalam dan satunya lagi di sebuah RS Internasional dengan tarif  ‘rakyat’ yakni 60 ribu rupiah permalam. Baca lebih lanjut

Bela Diri untuk Dokter

Karena sering ada pemukulan dokter,lampu merah akan menyala adanya 'penganiayaan' thd dokter di ruang resusitasi
Karena sering ada pemukulan dokter,lampu merah akan menyala bila ada  ‘penganiayaan’ thd dokter di ruang resusitasi salah satu RS di Surabaya

Beberapa waktu yang lalu terjadi pemukulan oleh seorang kopral marinir terhadap beberapa dokter di ruangan resusitasi (gawat darurat) salah satu RS di Surabaya. Menurut kabar yang saya dengar, pemukulan itu terjadi setelah meninggalnya salah seorang anggota keluarga sang marinir. Ruang resusitasi dikunci dari dalam oleh sang marinir  dan memukuli beberapa orang dokter yang sedang menangani pasien di tempat itu, termasuk atasannya sendiri yang saat itu berpakaian dokter (pangkat kapten) yang sedang menyelesaikan program pendidikan spesialis. Baca lebih lanjut

Setetes Darah Bisa Membawa Maut

Setetes darah dapat mencegah air mata duka. Setetes darah dapat menyelamatkan jiwa. Kedua jargon itu sepertinya masih menjadi jargon yang sering dipakai oleh Palang Merah Indonesia (PMI) sebagai pengelola donor darah di Indonesia. Sehingga diharapan setiap orang tergerak hatinya untuk mendonorkan darah.  Namun kedepan setiap rumah sakit  diperbolehkan untuk memiliki bank darah dan unit transfusi darah sendiri, sehingga penyelenggaraan donor darah tidak akan menjadi monopoli PMI. Saat ini seolah-olah transfusi darah masih menjadi hal yang biasa dan kadang menjadi prosedur baku untuk untuk memberikan darah pada semua jenis operasi besar dan anemia (kurang darah). Baca lebih lanjut