Kisah Sebuah Nama

Nama adalah doa. Oleh karena itu nama sebaiknya memiliki arti yang baik. Supaya ketika kita memangggil seseorang, otomatis kita mendoakan si empu-nya nama. Dalam Islam nama itu diberikan tatkala seorang yang baru lahir di-aqiqoh dengan menyembelih 2 ekor kambing bagi laki-laki dan 1 ekor kambing bagi perempuan. Jadi nama itu sangat berarti. Didapatkan ketika seseorang berhasil lahir di dunia fana ini dengan memotong kambing serta merupakan doa.

Namaku Muhammad Jabir. Muhammad adalah nama Rasulullah. Jabir (bahasa arab) artinya Sang Pembaharu yang Agung :-). Namun di Makassar, Jabir adalah satu nama ikan dan di Medan ada yang bilang Jabir itu artinya cerewet :-(. Teman-teman biasa memanggil saya Jabir. Orang tua saya memanggil saya Labi atau Jaabi.

Telah ada berbagai kepanjangan dari namaku. Waktu kuliah/dokter muda Jabir itu singkatan dari Jarang Bicara karena awalnya dulu saya termasuk pendiam (kata teman-teman saya). Ketika sdh agak cerewet, saya sering salah bicara, maka kepanjangan nama saya dirubah oleh seorang residen bedah menjadi Jangan Bicara.

Sewaktu di Aceh, tidak banyak yang menyebut nama saya dengan benar. Sederet pengucapan yang salah telah terjadi. Saya dipanggil Jubir, Zabir,atau Zubir. Banyak orang menyebut nama saya dengan pengucapan yang salah, termasuk Pak Bupati. Pasien lebih banyak mengenal saya dengan Dokter Jubir :-(. Dokter Juru bicara apa ?

‘Pemerkosaan’ nama saya berlanjut ketika menjalani pendidikan lanjutan. Setiap residen diharuskan memiliki inisial yang terdiri dari 3 huruf. Awalnya saya memilih inisial MJR. Maksudnya itu singkatan dari Muhammad Jabir. Namun ternyata teman-teman banyak yang memberikan kepanjangan lain dengan nama ikan. MJR : Mujair. Walau ada beberapa orang yg memberi kepanjangan MJR : Mas Jabir. Hehe. Akhirnya saya mengganti inisial menjadi JAB dengan harapan tidak lagi dipanggil dengan nama ikan air tawar itu. JAB adalah pilihan terakhir dari beberapa alternatif inisial JAB, BIR, MAD. BIR itu minuman beralkohol, MAD artinya gila, JAB itu sejenis teknik pukulan tangan. Saya pikir JAB adalah pilihan yg lebih manusiawi dibandingkan dengan yang lain. Namun ternyata, kepanjangan yang muncul lebih ‘parah’. JAB : Jablai… haha. Kepanjangan yang gue banget :-).

Ya sudahlah… yang penting nama asli artinya bagus. Jika mengikuti saran orang dan penilaian orang, maka urusan nama itu bisa berkepanjangan :-). Mari kita saling memanggil dengan nama yang baik karena nama itu adala doa.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. wah….. nostalgia sama Ust Dzulislam nih ye……kapan balik ke Aceh..??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: