Textbook Vs Facebook

Ah.. hari ini ternyata Hari Buku Nasional. Namun belum ada satu bukupun yang saya baca. Belum ada textbook kuliah yang saya baca, tapi aku sudah membaca halaman facebook dan twitter beberapa kali. Membolak-balik halaman facebook lebih menarik dan mengasyikkan daripada memplototi halaman textbook. Belum ada satu ayat dalam lembaran buku/kitab suci Al Qur’an yang saya baca hari ini, namun saya sudah hampir mengkhatamkan satu koran hari ini. Sayapun lebih asyik bertafakur di depan televisi daripada menekuri lembaran-lembaran buku kuliah yang lebih cocok dijadikan bantal.

Saya kembali teringat masa kecil ketika itu saya masih keranjingan membaca. Buku cerita di 3 sekolah dasar yang ada kampung saya hampir habis saya lahap. Bahkan potongan majalah atau koran yang tercecer di jalananpun saya baca. Saat itu saya belum akrab dengan tivi apalagi hape. Di kampung saya malah belum ada tivi. Boro-boro ada tivi, aliran listrikpun belum ada. Setiap sepupu saya membawa pulang dari kota majalah dan koran bekas (edisi beberapa bulan yanga lalu), seharian saya akan tinggal di rumahnya membaca koran dan majalah yang sudah expire itu. Ketika SMU
hampir tiap hari saya menghabiskan waktu di perpustakaan dan meminjam banyak buku dari sana. Mulai dari buku pelajaran, komik, sampai ajaran kebatinan..Saat inipun saya punya 2 kartu perpustakaan, namun belum ada satupun yang saya pergunakan untuk meminjam buku 🙂

Rasanya kecintaakun pada buku itu makin menipis. Saat ini saya membaca buku karena memang itu adalah keharusan, bukan kebutuhan. Membaca buku kuliah karena akan ujian dan membaca buku agama karena akan diskusi. Membaca buku bukanlah menjadi kebutuhan karena haus akan ilmu dan lapar akan hikmah dan pencerahan. Kalau dulu uang saya banyak habis untuk beli buku, sekarang banyak ludes untuk pulsa dan membeli gadget :-). Membaca bukan lagi kebutuhan pokok.

Tradisi digital sepertinya sudah menggusur tradisi buku. Budaya menonton lebih kuat daripada budaya membaca. Bioskop tumpah ruah oleh penonton, namun perpustakaan sepi pengunjung. Berapa banyak orang yang membaca buku saat ngantri di ruang tunggu rumah sakit atau klinik dibandingkan dengan orang yang ‘berasyik masyuk’ dengan handphone atau gadget canggih lainnya.

Semoga dengan Hari Buku Nasional ini, kita bisa menggali dan menyuburkan kembali semangat membaca buku yang sudah hampir terkubur. Buku adalah sumber ilmu. Para ulama besar adalah orang-orang yang gandrung pada buku dan mewariskan ilmu dengan buku. Orang-orang besar di dunia adalah para pecinta buku. Orang-orang sukses biasanya tidak lepas dari buku. Oleh karena itu jika ingin menjadi orang besar, jadikanlah buku sebagai kebutuhan. Demikian pula bila bangsa ini ingin besar, budaya membaca buku harus menjadi kebiasaan anak bangsanya. Sangat ironis apabila negara yang mayoritas penduduknya enggan membaca ini akan mengalami ‘paceklik’ buku sebagaimana yang diramalkan oleh UNESCO. Selamat Hari Buku Nasional…!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: