Ayah, Aku Gagal jadi Tentara

swaramuslim.com
gambar dari :swaramuslim.com

“Kamu harus jadi tentara,Nak” Ayahku berucap padaku sambil mengelus lembut kepalaku.

“Bila kau jadi tentara nanti, mungkin ayah tidak akan diperlakukan lagi seperti ini. Kita akan dihormati dan disegani”

“Iya, Ayah. Saya berjanji.”

“Setelah tamat SMP nanti, kamu masuk SMA Taruna ya..”

“Saya akan berusaha, Ayah”

Aku geram, bila melihat orang-orang yang berbuat semena-mena pada beliau. Untuk kesekian kalinya ayahku diperas oleh petugas dan preman pelabuhan.  Sedih dan tak berdaya. Itu yang aku rasakan dan mungkin juga dirasakan oleh ayahku. Aku sering ikut ayahku berlayar dari desaku ke kota dengan melintasi Laut Banda yang ganas. Kami membawa hasil bumi penduduk setempat untuk ditukar dengan rupiah. Ayahku mendapatkan uang dari sewa kapalnya. Beliau membawa kapal kayu kecil. Kapal kayu itu mesti terlunta-lunta 12 jam di lautan untuk bisa sampai di tujuan. Kadang ombak lebih besar dari kapal yang kami bawa. Untung ayahku sejak kecil sudah jadi pelayar. Bahkan sebagian besar lautan nusantara ini sudah pernah beliau layari bersama kakekku. Beliau sering bercerita tentang tempat yang pernah ia kunjungi. Semua itu menumbuhkan benih keinginan saya untuk menjadi perantau juga.

Juragan kampung yang berwujud kepala desa juga menarik retribusi yang tidak wajar. Namun ayahku tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin karena kesewang-wenangan yang selalu kami terima dan ketidakberdayaan itu, beliau sangat menginginkan saya untuk menjadi seorang tentara. Tentara di kampung saya masih sangat ditakuti dan disegani. Saya berharap, setelah menjadi tentara nanti, kesewenang-wenangan dan ketidakadilan itu akan bisa sirna dan aku bisa melihat ayahku tersenyum di pelabuhan karena aku mendampinginya sehingga para preman dan petugas itu tidak berani lagi memeras ayahku. Juragan kampung juga tidak semena-mena lagi kalau dia tahu, ayahku punya putra yang menjadi seorang tentara.

Semangatku makin membaja untuk menjadi tentara melihat kenyataan itu semua. Harapan saya saat itu, jikalau kelak aku sudah berpakaian loreng, aku bisa menindak mereka yang berbuat ‘macam-macam pada ayahku.

Setelah Tamat SMP, aku langsung ikut seleksi SMU Taruna Nusantara. Namun gagal pada seleksi terakhir di tingkat propinsi. Biasanya sekitar 5 orang tiap tahun yang lulus dari propinsi saya, tapi saat itu tidak ada seorangpun yang lulus.
Tamat SMA saya kembali ikut seleksi masuk AKABRI. Namun gagal lagi. Kemudian setelah lulus di fakultas kedokteran, ayah saya sangat mengharapkan untuk masuk tentara lagi. Harapan itu sudah tidak bisa saya sanggupi. Cita-cita saya untuk menjadi tentara sudah memudar. Saya tahu, ayah saya mungkin kecewa.

Setelah bertugas di Aceh saya ditawari untuk menjadi dokter mitra kepolisian tingkat kabupaten. Saya pikir ini harapan terakhir saya mewujudkan mimpi beliau yang menginginkan putra satu-satunya ini masuk dalam dunia militer, walau hanya sebagai angggota kehormatan. Namun kartu anggota kehormatan sebagai dokter mitra polisi belum sempat saya peroleh karena saya mesti memutuskan kontrak karena saat itu orientasiku sudah berubah. Padahal saya berencana mengirimkan fotokopian kartu itu pada beliau. Siapa tahu bisa sedikit mengurangi kekecewaan beliau :-). Saat ini aku ingin membuat beliau bangga dengan cara lain, walau pada awalnya beliau kurang setuju.

Maafkan aku Ayah. Aku tidak gagal menadi tentara. Semoga engkau bisa juga bangga dengan apa yang aku jalani selama ini. Jikalau Allah menghendaki dan kita panjang umur serta tidak ada aral melintang, Ayah akan mendampingiku saat wisuda dokter spesialis 6 tahun yang akan datang. Doakan aku.
Ayah, aku rindu padamu..

Also Published in my kompasiana

Iklan

3 Tanggapan

  1. salut kank walau tidak jadi tentara akank jadi abdi masyarakat. kalau saya pribadi justru aku bangga seandainya jadi seorang dokter, bahkan aku ingin kelak salah satu anakku kalo bisa jadi seorang dokter. kank kalo dikota-kota besar setiap anak kecil ditanyakan apa cita-citamu kelak saya rasa boleh dikata mayoritas mereka menjawab ingin jadi dokter! tuh kank.
    salam kenal ya kank http://hasimpci.wordpress.com/
    bolehkah tuker link

  2. artikel yg menarik sekali mas jabir. saya amati di indonesia bahwa tentara itu selain abdi negara yg tugasnya melindungi negara juga merupakan profesi bergengsi. gak heran banyak remaja indonesia yg setelah sma mau masuk akademi tni. berbeda dgn remaja di negara yg ada program wamilnya, banyak remaja dari negara itu yg memilih studi di ln supaya gak kena wamil.

    sebenernya untuk menghindari kezaliman, gak mesti ditakuti, yang penting anda punya kharisma atau dgn kata lain wibawa atau anda dicintai.

    artikel ini mengingatkan saya ttg cita2 saya di masa kecilku untuk menjadi polisi karena yg ada di benakku ketika ada polisi di sekitar saya, maka saya akan merasa aman. tapi kemudian saya gak bercita2 lagi untuk jadi polisi, saya masih inget komentar bapakku ttg cita2ku di masa kecil dulu “dulu kamu bilang mau jadi polisi aja, kamu ntar kalau jadi jendralnya repot kamu”, saya cuma senyum2 aja kalau mengingat kata bapakku itu. tapi sekarang saya tidak kuliah di akpol, tapi di limkokwing, malaysia ngambil komunikasi.

    semoga kezaliman pada rakyat kecil tidak ada lagi di indonesia

  3. Untung sy gagal jadi Tentara :-).
    Memang ada bidang tertentu yang jelas2 menjadi penyokong utama sistem thagut yg ada sebaiknya dihindari, salah satunya menjadi Tentara atau Polisi.
    Walau pada dasarnya, siapapun yang hidup di Indonesia dan bekerja dimanapun dia, termasuk penjual gorengan, saat ini otomatis menyokong sistem yang ada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: