Menyikapi Fatwa

locustempus.blogspot.comSebagai orang seorang muslim yang kurang paham agama dan tidak bisa menggali status hukum terhadap suatu masalah,  maka saya memilih takliq-mengikuti- terhadap apa yang diputuskan para ‘ulama’. Namun saya sedikit heran dengan  sikap beberapa kaum muslimin yang sepertinya antipati atau bahkan mengatakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) kurang kerjaan dengan mengeluarkan fatwa ‘aneh’ atau konyol bagi mayarakat. Saya cenderung mengikuti fatwa tersebut walau ada beberapa fatwa yang saya kurang setuju karena mungkin karena saya yang tidak  mengerti duduk persoalannya apalagi dalil-dalil syar’i-nya. Saya juga mendukung dan setuju dengan fatwa tentang haramnya wanita menumpang pada pengojek pria asing (nonmuhrim)  atau menjadi tukang ojek bagi pria yang bukan muhrimnya sebagaimana yang pernah ditulis Bang ASA di Kompasiana tentang Wanita Naik Ojek? Haram, Nih, Yeee. Mungkin kurang bijak apabila kita menghakimi para ulama kita sebagai orang/lembaga yang kurang kerjaan atau kehabisan proyek serta mencari sensasi disaat kita belum mengerti tentang hakikat fatwa dan apa yang difatwakan oleh para ulama. Berikut hasil googling saya :

1. Apakah Fatwa Itu ?

Menurut kamus (KBBI) fatwa berarti“1 keputusan perkara agama Islam yg diberikan oleh mufti atau alim ulama tt suatu masalah; 2 nasihat orang alim; pelajaran baik; petuah.” KBBI juga mengartikan petuah antara lain sebagai “1 keputusan atau pendapat mufti (tt masalah agama Islam); fatwa; 2 nasihat orang ahli; pelajaran (nasihat) yg baik. Atau ringkasnya fatwa adalah penjelasan hukum syariat atas berbagai macam persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

2. Siapakah yang berhak menjadi muftiy (yang mengeluarkan fatwa)?

Jika fatwa adalah penjelasan hukum syariat atas persoalan tertentu, maka, kaedah pengambilan fatwa tidak ubahnya dengan kaedah menggali hukum-hukum syariat dari dalil-dalil syariat (ijtihad). Satu-satunya cara untuk mengetahui hukum syariat dari dalil-dalil syariat adalah dengan ijtihad, tidak ada yang lain. Oleh karena itu, seorang muftiy tak ubahnya dengan seorang mujtahid (orang yang melakukan ijtihad).

Di kalangan ‘ulama ushul, ijtihad diistilahkan dengan “istafraagh al-wus’iy fi thalab al-dzann bi syai’i min ahkaam al-syar’iyyah ‘ala wajh min al-nafs al-‘ajziy ‘an al-maziid fiih”; yakni mencurahkan seluruh kemampuan untuk menggali hukum-hukum syara’ dari dalil-dalil dzanniy (belum pasti), hingga batas dirinya merasa tidak mampu melakukan usaha lebih dari apa yang telah dicurahkannya.

Imam Syafi’I berkata tentang fatwa: “Tidak halal seseorang memberikan fatwa tentang agama Allah, kecuali mengerti seluk beluk kitab Allah, tentang nasikh dan mansukhnya, muhkam dan mutasyabihnya, ta’wil dan tanzilnya, makiyah dan madaniahnya, apa yang dikehnedakinya dan dalam hal apa ayat tersebut diturunkan. Setelah ia mengerti tentang hadits Rasulullah SAW, tentang nasyikh dan mansyukhnya mengerti seluk beluk hadits sebagaimana mengerti seluk beluk Al Qur’an, mengerti bahasa Arab, dan mengerti nilai rasa bahasa Arab, mengerti persoalan (perangkat) yang diperlukan oleh ilmu dan Al Qur’an. Selain itu dia harus mampu bersifat pendiam (memperhatikan), tidak hanya bicara setelah itu dia menghormati pendapat para ahli pikir, dan memiliki kemampuan untuk berfatwa. Apabila semua syarat tersebut ada pada dirinya, maka ia boleh berbicara dan berfatwa tentang halal dan haram. Namun jika tidak demikian, ia boleh berbicara hal ihwal ilmu tapi tidak boleh member fatwa”(Khatib Al Baghdadi, Al Faqih Mutafaqqih, Jilid II, hal 157).

Dari gambaran itu, sesungguhnya menunjukkan betapa sulitnya kriteria seorang mufti. Berbeda halnya di masa sekarang yang mungkin begitu mudahnya bagi para ulama untuk mengeluarkan fatwa, dan bahkan mungkin saking, sering dan mudahnya, hingga fatwa-fatwa itu tak ada yang terlaksana atau bahkan kemudian saling tumpang-tindih.

3. Persoalan  bagaimana yang difatwakan?

Persoalan dalam masyarakat yang belum ada kepastian hukumnya perlu penjelasan dari para ulama. Sehingga umat mengetahui status hukumnya. Fatwa sebagai  ijtihad hanya melibatkan dalil-dalil yang bersifat dzanniy (belum pasti). Menurut al-Amidiy, hukum-hukum yang sudah qath’iy (pasti)  tidak digali berdasarkan proses ijtihad. Sebab hukum yang terkandung di dalam nash-nash yang qath’iy (dilalahnya)-pasti penunjukkannya- sudah sangat jelas, dan tidak membutuhkan interpretasi lain, misalnya wajibnya potong tangan bagi pencuri, hukuman bagi pezina, bunuh bagi orang-orang yang murtad, dan lain sebagainya.Sebab, tidak ada pertentangan atau multi interpretasi pada nash-nash yang qath’iy. Oleh karena itu, ijtihad tidak berhubungan atau melibatkan dalil-dalil yang bersifat qath’iy, akan tetapi hanya melibatkan dalil-dalil yang bersifat dzanniy. Atas dasar itu, ijtihad tidak berlaku pada perkara-perkara ‘aqidah, maupun hukum-hukum syara’ yang dilalahnya qath’iy( pasti/jelas penunjukkannya)

Ijtihad adalah proses menggali hukum syara’, bukan proses untuk menggali hal-hal yang bisa dipahami oleh akal secara langsung (ma’qulaat), maupun perkara-perkara yang bisa diindera (al-mahsuusaat). Penelitian dan uji coba di dalam laboratorium hingga menghasilkan sebuah teorema maupun hipotesa tidak disebut dengan ijtihad.

Jadi hal-hal yang sudah jelas status hukumnya tidak perlu lagi difatwakan. Misal : mencuri, berjudi, makan riba – haram, berzina/selingkuh-haram, sholat-wajib, bersepi-sepi dengan non-muhrim-haram, menutup aurat-wajib, ect..Hanya masalah-masalah yang belum jelas hukumnya dalam Islam yang perlu dijelaskan melalui fatwa. Contohnya : hukum kloning dan imunisasi, hukum terapi dengan stem sel, merokok,  ect.

Namun sebaiknya (menurut saya) para ulama juga sebaiknya memberikan fatwa yang menyangkut urusan kenegaraan misalnya : hukum membangun negara dengan utang, hukum menerapkan ekonomi neoliberal, dan hukum privatisasi aset negara (boleh gak dalam Islam).. jangan hanya fatwa yang menyangkut persoalan ‘orang kecil’ seperti pengemis, merokok, wanita naik ojek, foto pre-wedding, dan rebonding saja. 🙂

Semoga bermanfaat..

Sumber Tulisan :

Iklan

2 Tanggapan

  1. Konsep pluralisme yang umat muslim pahami adalah keliru !
    Baik dengan arti semua agama benar atau semua agama sama, karena Allah “memberitahukan” kepada manusia melalui nabi dan rasul secara bergantian tidak bersamaan !

    Nabi yang kemudian bertugas sekaligus “memperbaiki” ajaran nabi sebelumnya yang kitabnya “dirusak”, “diubah”,”dilempar” oleh manusia.

    Sampai Allah telah menetapkan yang “terakhir” dan akan menjaganya sampai akhir zaman.

    Jadi urgensi diutusnya Nabi Muhammad dengan Islam adalah karena umat manusia sebelumnya telah merusak atau mengubah atau melempar ajaran/kitab dari nabi sebelum Nabi Muhammad.

    Apakah manusia tidak menyadarinya ?

    Klo sekedar toleransi, kita tidak perlu menerima paham pluralisme cukup dengan berpegangan pada kode etik dengan non muslim. http://mutiarazuhud.wordpress.com/2009/10/08/2009/10/03/etik-dengan-non-muslim/

    Kehidupan kita di dunia ini, diserang oleh isme-isme yang keliru seperti Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme (SPILIS).
    Isme-isme itu sesungguhnya disebarluaskan oleh suatu kaum yang telah disebut oleh Allah dalam firmanNya,
    “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82)
    Kaum itulah yang sesungguhnya , secara halus, mengarahkan olah pikir kita, pemahaman, filsafat, paradigma yang mengakibatkan kita konflik, berbeda pendapat bahkan peperangan.
    Untuk itulah kita harus waspada dengan cara memahami mereka.
    Selengkapnya baca http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/01/18/sekularisme-pluralisme-dan-liberalisme/

  2. mangstab pak dokter….
    kalo bisa di jelaskan juga MENETAPKAN SEBUAH HUKUM dengan Standart DEMOKRASI gimana Hukumnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: