Bela Diri untuk Dokter

Karena sering ada pemukulan dokter,lampu merah akan menyala adanya 'penganiayaan' thd dokter di ruang resusitasi
Karena sering ada pemukulan dokter,lampu merah akan menyala bila ada  ‘penganiayaan’ thd dokter di ruang resusitasi salah satu RS di Surabaya

Beberapa waktu yang lalu terjadi pemukulan oleh seorang kopral marinir terhadap beberapa dokter di ruangan resusitasi (gawat darurat) salah satu RS di Surabaya. Menurut kabar yang saya dengar, pemukulan itu terjadi setelah meninggalnya salah seorang anggota keluarga sang marinir. Ruang resusitasi dikunci dari dalam oleh sang marinir  dan memukuli beberapa orang dokter yang sedang menangani pasien di tempat itu, termasuk atasannya sendiri yang saat itu berpakaian dokter (pangkat kapten) yang sedang menyelesaikan program pendidikan spesialis.

Suatu ketika saya dijemput tengah malam oleh keluarga pasien untuk memeriksa kelurganya yang sakit berat (tumor hati/hepatoma). Saat itu sang pasien meminta penjelasan tentang kemungkinan kesembuhan penyakitnya. Saya jelaskan apa adanya dengan hati-hati. Saya tidak ingin memberikan harapan palsu dan juga tidak menakuti pasien. Sang pasienpun menerimanya dengan lapang dada. Keluarga yang lain juga menerima apa yang saya sampaikan. Namun ternyata ada anaknya yang baru datang dari Jakarta mendengar apa yang saya bicarakan dengan pasien dan tidak menerima penjelasan yang saya berikan. Tatkala saya hendak pulang, dia mencegat saya dan mengatakan bahwa saya tidak punya otak dan menunjuk-nunjuk hidung saya (hampir kena hidungku)… wow… Dia sangat marah kenapa saya menjelaskan penyakit itu pada Ayahnya karena menurutnya hal itu akan membuat ayahnya makin ‘down’. Saya katakan bahwa itu hak pasien untuk mengetahui bagaimana penyakitnya. Saya hanya menjelaskan yang ditanyakan saja. Sejurus kemudian saya hendak dipukul. Melihat gelagat buruk itu, saya berusaha mundur dan menangkap tangannya yang makin dekat ke wajah saya. Kemudian datang seorang lelaki yang memegang kedua tangan saya dan sepertinya hendak dipukul. Hmm… saya hanya bisa mengeluarkan jurus melepaskan diri dan berusaha menjelaskan. Keluarganya yang lain berusaha melerai. Jurus pamungkas saya keluarkan.. tendangan seribu bayangan, eh salah.. langkah seribu :-). Jurus ini pernah saya gunakan saat disekap oleh seorang gay.. huh..

Itu salah satu kejadian yang pernah saya alami. Kejadian lain ketika saya harus berhadapan dengan pasien gila. Waktu itu saya kebetulan menjadi penanggung jawab pasien dengan kelainan jiwa di kabupaten. Kacamata saya beberapa kali terbang akibat pukulan pasien gila. Beberapa teman dokter juga  bercerita kalau mereka pernah dipukul oleh keluarga pasien.

Saya belum menemukan data berapa angka kejadian dokter yang mengalami pemukulan atau penganiayaan. Biasanya pemukulan dilakukan oleh keluarga pasien atau pasien gila.  Hal ini bisa terjadi karena komunikasi yang kurang baik antara keluarga pasien dan dokter atau keluarga pasien yang hanya menerima informasi sepotong tentang keluaganya atas pelayanan dokter. Sepanjang pengalaman saya, keluarga pasien yang arogan biasanya belum pernah mendengarkan atau terlambat mendengarkan penjelasan dari dokter. Walau kadang dokter berusaha mengumpulkan keluarga untuk menjelaskan, kadang ada satu-dua orang yang belum ada atau belum datang. Tidak mungkin dokter bisa menjelaskan kepada semua anggota keluarga. Nah.. yang baru datang ini biasanya yang ‘bikin ulah’. Tanpa ba bi bu… langsung menghajar dokter yang sedang sibuk menangani pasien. Apalagi dia merasa bisa memukul dokter karena kedudukannya atau karena ‘pintar-pintar tanggung’. Saya juga hampir pernah terlibat ‘pertarungan’ dengan seorang tentara :-).

Apa karena adanya tindak kekerasan ini sehingga waktu kuliah dulu, pada semester satu saya diwajibkan ikut Taekwondo oleh Dekan? Saat minggu-minggu terakhir KKN dulu, tiap tengah malam saya selalu dibangunkan oleh soerang mantan preman Makassar dan ‘dipaksa’ belajar bela diri. Karena menurutnya itu sangat perlu untuk dokter. Dia mendengar beberapa dokter yang dipukul dan dianiaya bahkan diancam dibunuh di daerah itu. Setelah menghadapi banyak keadian, ternyata ilmu bela diri yang pernah diajarkan sang preman itu berguna  :-).

Saya kira dokter tidak ada yang ingin pasiennya tidak sembuh. Memang diakui bahwa tidak semua dokter memiliki kemampuan komunikasi yang baik dengan pasien. Namun tindakan menganiaya dokter juga tidak bisa diterima. Kalau dokter terbukti bersalah, ada jalur hukum yang bisa ditempuh walau orang awam  mungkin belum tahu akan hal itu. Makanya saya setuju dengan pendapat preman yang pernah sukarela mengajarkan saya beladiri, bahwa bela diri itu perlu untuk dokter terutama mereka yang akan terjun di pedalaman.

Iklan

3 Tanggapan

  1. sermon of relaxation……….. kita pernah belajar itu sebelum memasuki DOkter muda, semoga tetap mengendap dan diamalkan. sangat inspire.

  2. woahhh hebat..sabar yaaa pak dokter..saya juga seorang perawat cukup prihatin..tapi itulah phenomena di negara kita….
    mudah2han bapak dapat pahala yg banyak atas kejadia tersebut aminn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: