Makam Berjama’ah

Salah satu lokasi 'makam berjamaah' di Aceh(jabir.doc)Peristiwa Tsunami yang terjadi di Aceh 5 tahun yang lalu menyisakan banyak kisah dan pelajaran. Ratusan ribu nyawa hilang dalam beberapa saat. Tidak ada yang sanggup menghindar dari bencana alam tersebut. Menurut banyak cerita yang saya dengar langsung dari ‘pelaku sejarah’ korban Tsunami, banyak yang mengira hari itu adalah hari kiamat. Semua terjadi begitu cepat, membawa pergi sanak saudara, keluarga dan harta benda. Bahkan rumah merekapun hilang tak berbekas.

Banyak kuburan massal atau makam berjamaah yang menjadi bukti kejadian ini. Salah satunya adalah kuburan massal di bawah ini. Makam ini terletak di Ulee Lheue. Kecamatan Meuraxa. Kota Banda Aceh. Kuburan ini merupakan terbesar kedua setelah kuburan massal yang berada di Lam Baro, Aceh Besar. Menurut apa yang tertulis di prasasti kuburan massal ini telah semayamkan + 14.264 orang. Suatu jumlah yang cukup besar. Ini baru hanya satu kuburan massal. Kuburan massal yang di Lam Baro disemayamkan sekitar 47.000 jenazah. Di tempat seperti inilah korban Tsunami yang tidak diketahui identitasnya dimakamkan. Tanpa nisan dan tanpa gundukan tanah. Hanya prasasti ini yang terpancang dengan tulisan ayat Al Qur’an dan perkiraan jumlah korban yang disemayamkan.

Salah satu kuburan massal di NAD (jabir.doc)
Tulisan pada prasasti kuburan massal dalam bahasa Aceh (jabir.doc)

Bila diartikan dalam bahasa Indonesia  kira-kira artinya seperti ini :

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (Al-Anbiya : 35)
Dengan Rahmat Allah Ta’ala,
Di tempat ini telah disemayamkan + 14.264 jiwa yang syahid dalam bencana gempa dan tsunami pada waktu pagi hari ahad. 14 hari bulan Dzulqaidah 1425 Hijriah. 26 Desember 2004.

Semoga bencana alam dahsyat seperti ini tidak akan lagi melanda negeri ini. Beberapa waktu yang lalu saya sempat bertemu dengan teman dari Aceh yang sampai saat itu masih benci dan dendam pada air laut yang telah mengambil istri dan kedua anaknya dan sampai-sampai ia mengatakan bahwa Tuhan telah memotong kebahagiaan hidupnya. Berat memang. Saya juga tidak bisa menjamin diri saya akankah bisa tegar menghadapi musibah seperti itu. Semoga Allah menempat mereka ditempat yang layak di sisiNya dan kita yang masih hidup bisa mengambl pelajaran dari semua kejadian yang ada serta selalu mempersiapkan diri menghadapi kematian. Amin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: