Indonesia ‘Raya’ yang Kecil

indonesia“Wah.. Indonesia Raya sekali !!!”

‘Olokan’ itu masih terngiang di telingaku. Sekitar 6 tahun yang lalu saat saya masih mahasiswa S1, ungkapan itu sering dilontarkan teman-teman saya tatkala ada seseorang yang ‘terlalu’ Indonesia. Misalnya saat seseorang menyanyikan lagu dangdut atau mendasarkan pendapatnya pada tokoh-tokoh Indonesia saat diskusi politik :-). Biasalah.., mahasiswa memang seperti itu. Indonesia memang ‘raya’ kok. Secara harfiah ‘raya’ memang berarti besar. Kalau bahasa Aceh dikatakan ‘rayeuk’ yang juga berarti besar. Wilayah negeri ini memang besar, jumlah penduduknya besar (urutan ke-4 didunia), sumber kekayaan alam besar, potensi manusia ‘besar’, kasus korupsi jumlahnya besar, angka kemiskinan besar, pokoknya banyak yang besar-besar :-). Kemaksiatan juga dilakukan dalam skala yang besar, sehingga tidak heran jika  potensi bencana juga besar-besar. Gempa dan banjir merupakan kawan hidup bangsa yang besar ini.

Indonesia ingin menjadi bangsa yang besar, namun kita kadang ’selalu’ merasa kecil dan tidak ingin jadi besar dan dewasa. Salah satu indikasi seseorang ingin menjadi besar dan dewasa adalah hilangnya ketergantungan pada pihak lain. Bangsa ini memang sepertinya tidak ingin menjadi besar. Indonesia ibarat anak kecil yang manja dan menderita obesitas. Indonesia sebenarnya mampu melepaskan diri dari ketergantungan pada bangsa dan pihak lain, namun karena ‘manja’ dan masih bisa dikibuli oleh IMF, maka untuk makan saja kita masih minta disuapi yang pada akhirnya menjadi kegemukan (obesitas).

Gemuk karena kurang bergerak untuk mandiri. Gemuk hanya terisi oleh jaringan lemak yang menimbulkan banyak resiko penyakit-penyakit yang mematikan serta tidak mampu berpacu dengan negara lain karena bobot badan yang terlalu berat. Jumlah rakyat yang besar seharusnya menjadi potensi pembangunan, malah sebagian jadi beban negara. Sumber daya alam yang besar seharusnya membawa kemakmuran rakyat, malah menjadi sumber bencana bagi rakyat. Lihatlah kasus lumpur Lapindo dan gersangnya areal-areal bekas penambangan kekayaan alam.

Sebagai bangsa yang besar dan potensi bencana yang juga besar, gempa dan banjir merupakan kawan hidup bangsa yang besar ini. Namun sepertinya kita juga belum dewasa ‘berkawan’ dengan bencana. Malah kadang kita sendiri yang mengundang bencana. Lihatlah Jepang yang juga hidup bersama gempa, mereka telah menyiapkan segala sesuatu untuk menghadapi gempa. Mulai dari sistem alarm peringatan sampai pada pembuatan semua rumah dengan konstruksi yang tahan gempa. Banjir tiap tahun menjadi langganan, namun pembangunan yang tidak ‘sadar’ lingkungan  dan penebangan hutan tanpa kontrol terus berlanjut.

Padahal saya yakin, sebenarnya kita bisa besar, dewasa, dan mandiri jika kita mau. Masalahnya, kita seolah-olah belum mau seperti itu. Usia bangsa ini sudah ‘uzur’ dalam ukuran usia manusia. Menjadi seorang anak memang menyenangkan, namun apakah walaupun jenggot sudah beruban kita masih tetap ingin menjadi anak-anak??

Iklan

2 Tanggapan

  1. senang berjumpa dengan rekan blogger di jagat raya blogsphere yang postingnya menarik-menarik kayak ini,
    Saya Agus Suhanto, salam kenal…

  2. indonesia menjadi hypermarketnya bencana ya aduen…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: