Menimbang Mudik Lebaran

mudik-motorMudik merupakan agenda tahunan rakyat Indonesia yang penuh warna, sejuta rasa, dan aneka rasa. Agenda ini memang serangkai dengan perayaan hari besar Islam yakni idul fitri dan idul adha. Pulang ke kampung halaman sekaligus merayakan hari raya bersama keluarga dan handai taulan. Ada kumparan magnet tersendiri yang menarik dengan begitu kuat para perantau untuk menyediakan dan mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan keperluan mudik. Kadang walau dengan penuh resiko bahkan kehilangan nyawa sekalipun.

Namun berkaitan dengan fenomena mudik lebaran ada beberapa hal yang mesti dikaji ulang. Pertama : mudik yang dilakukan di akhir puasa ternyata mengurangi bahkan menghilangkan konsentrasi orang berpuasa di akhir ramadhan. Sepuluh terakhir puasa seharusnya orang lebih beribadah. Hampir semua waktu tercurah untuk keperluan mudik. Padahal ramadhan hanya setahun sekali dan belum tentu umur kita masih menyampaikan kita di ramadhan tahun depan. Mudik bisa dilakukan sepanjang tahun. Biarlah ramadhan memberikan kita waktu untuk beribadah. Apalagi pada sepuluh hari terakhir ramadhan dimana didalamnya terdapat satu malam yang lebih utama dari seribu bulan.

Kedua : Mudik selalu menelan banyak korban. Mudik kali ini sudah ‘mencabut nyawa’ 390 orang dengan kecelakaan yang lebih dari seribu kasus. Walau ajal memang telah ditentukan oleh Sang Pencipta, namun yang tercabut nyawanya di jalanan terlalu banyak. Hal ini memerlukan perhatian yang serius dari pemerintah dan kesadaran yang tinggi dari pemudik.

Ketiga : Mudik merupakan salah satu sarana menghabiskan uang yang efektif. Mudik memerlukan biaya trasnpor,  oleh-oleh, dan biaya perjalanan (nginap, makan, dll) yang lumayan besar. Bagi mereka dengan pengasilan yang besar, biaya mudik mungkin tidak menjadi masalah. Namun untuk mereka dengan pengasilan pas-pasan, harus menabung beberapa bulan atau bahkan setahun untuk mempersiapkan mudik lebaran. Saya yang memiliki gaji seadanya, terpaksa tidak bisa bisa mudik tiap tahun. Apalagi jarak yang terlalu jauh untuk ukuran orang biasa seperti saya. Saya bekerja di Aceh dan mudiknya ke Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Sekali mudik bisa menguras tabungan tabungan yang dikumpulkan selama setahun. Makanya saya mudik tiap 2 tahun saja 🙂

Walaupun demikian mudik memang membawa arti tersendiri. Pulang ke kampung halaman dan bertemu dengan keluarga adalah kebahagiaan yang luar biasa. Ada keindahan tersendiri yang sulit terlukiskan dengan kata-kata tatkala bernostalgia dengan kampung dan menelusuri kembali pengalaman hidup yang masih polos dan lugu. Biaya yang dikeluarkan untu mudik dan keletihan selama perjalanan seakan tidak ada artinya dibandingkan dengan kebahagiaan di saat mudik 🙂

Iklan

5 Tanggapan

  1. setuju … 🙂

    saya di Banda Aceh 8 tahun lagi zaman ramai2-nya Aceh Merdeka (nama sebelum GAM)….

    Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Wa Ja’alanallahu Minal ‘Aidin Wal Faizin

    Lagi Gempa Lebaran
    -http://richocean.wordpress.com/2009/09/23/gempa-ketiga-lebaran-1430h-balisumatrajawa/

    atau jika sempat main ke blog saya ttg wisata alam:
    -http://richmountain.wordpress.com/wisata/rizqi-firdaus-agro-wana-widya-wisata-1/

    salam kenal 😆

  2. ya begitulah Indonesia. fenomena mudik juga merupakan wujud ketimpangan pembangunan yang merata di Indonesia. sehingga orang kampung berramai-ramai mencari pekerjaan di ibukota, kota-kota besar. satu tahun sekali, mereka kembali ke kampung dengan berbagi macam tujuan. mungkin b utuh waktu yang sangat lama di Indonesia agar orang tidak berbondong-bondong merantau ke ibukota. jika lapangan pekerjaan tersedia di daerah, menyebar di banyak propinsi, kabupaten, mungkin fenomena merantau akan berkurang. dengan demikian mudik lambat laun tidak akan terjadi besar-besaran hingga Jakarta lengang.

    terlepas dari berbagai banyak madlaratnya, mudik setidaknya mempunyai nilai yang positif bahkan ibadah jika diniati dengan niat baik. misalnya, untuk bersilaturahim, berbagi, dll. merupakan kepuasan bathiniyah, yang kadang dijadikan alasan sebagai hak pribadi mereka.

    salam kenal, jangan lupa kapan2 berkunjung ke blgok saya. trims

  3. Saya tidak mudik mas. hanya bersilaturrahim ke keluarga. he..he…dan saya lakukan di hari lebaran jadi tidak menganggu puasa. mudik, mestinya juga di lakukan tidak menghilangkan esensinya. banyak dari mereka mudik, setelah ketemu keluarga di hari dul fitri ya kemudian tidur terus di rumah dan tidak keluar rumah bersilaturahim ke tetangga. mungkin saja mereka kelelahan di jalan waktu mudik, dan persiapan akan balik lagi. tetapi, tidak jarang para tetangga di komplek sekedar ingin bertemu, bertanya, dll. tidak jarang pula tetangga yang ada merupakan kerabat tetapi mereka tidak di kunjungi. bukan kewajiban kali ya, bukan pula kesunahan. yang sunah adalah menjaga silaturrahimnya.

    terima kasih kunjungannya, jangan bosan mas berkunjung kembali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: