Orang Miskin juga Bisa Sekolah

Sebenarnya saya masuk kategori orang miskin juga, tapi alhamdulillah saya bisa sekolah sampai jadi dokter. Rencananya malah mau sekolah lagi.. hehe. Sejak SD sampai SMP di tahun 1986-1992, saya sekolahnya di kampung sono yang tidak ada di peta dunia. Bayaran sekolah masih murah, bisa nyicil lagi. Waktu SMA saya sudah pindah ke kota, ngekos sama sodara2 dengan sewa kos 300 ribu pertahun. Biaya hidup masih murah, dan kalau kehabisan uang, kalung sodari perempuan yang digadaikan. Sampe2 pegawai pegadaian mungkin bosan lihat muka s aya yang bolak balik pegadaian tiap bulan. Kalung sodari saya lama-kelamaan jadi aus karena sering digosok ke alat tes emas murni atau palsu tiap bulan. Walau semboyan pegadaian saat itu masih “mengatasi masalah tanpa masalah“, tapi bagi  Saya kadang masih bermasalah. Soalnya kadang pada saat jatuh tempo pengembalian uang, kiriman dari kampuang yang di seberang laut sana belum sampe. Maklumlah kalo musim keras ombak, Laut Banda tidak mengizinkan kapal dari kampung saya untuk berlayar karena kampung udik itu tepat berhadapan dengan Laut Banda.

Waktu SMU sarapan pagi biasanya pake nasi saja.. Lauknya teh manis. Kadang-kadang kerak nasi, tapi enak juga kok. Kalau pas bulan ramadhan, Saya rajin sholat  maghrib di masjid karena banyak makanan gratis. Saya awalnya tidak suka roti, tempe, apalagi tahu… (wueekk…). .Ketiga jenis makanan itu tidak pernah diketemukan di kampung saya yang masih amat sangat terpencil itu.  Tapi karena tahu dan tempe adalah lauk yg paling murah di kota, terpaksa harus makan..

Tiga tahun, orang bilang tak terasa. Tapi bagi Saya sangat terasa. Akhirnya tamat juga SMU. Hmm… Saya ingin kuliah. Awalnya ingin jadi tentara, tapi karena satu dan banyak hal impian itu gak kesampaian. Akhirnya merubah haluan ingin jadi dokter. Hehe… Saya beruntung karena ternyata lulus di fakultas kedokteran di salah satu universitas di negeri ini… Setelah lulus.. malah jadi bingung. Biayanya nanti pake apa ? Apa boleh pake daun cengkeh? Kalau pake daun cengkeh, di kampung Saya juga banyak.. setelah keluarga berunding dan nanya2 masalah biaya kuliah, akhirnya jadi berangkat kuliah. Sebelumnya ada orang sekampung  Saya juga ada yang lulus di kedokteran, katanya biayanya mahal. Sudahlah coba dulu, kalo nanti gak sanggup biayanya, bisa mengundurkan diri.

Berangkatlah Saya ke tempat kuliah di propinsi lain. Tiba disana langsung tinggal di asrama mahasiswa dengan sewa kamar Rp.15.000/bulan biaya kuliah kuliah yang masi relatif murah (Rp.180.000/semester). Mana ada biaya kost dan uang kuliahh persemester seperti itu sekarang.. Walau sewa asrama masih murah begitu, tapi Saya masih sering nunggak juga. Untuk menghemat biaya transportasi, Saya kumpul uang beasiswa BBM untuk beli sepeda bekas. Bisa dipake kemana-mana tanpa mengeluarkan unag untuk beli BBM tapi cukup dengan mengeluarkan keringat dan kadang-kadang kencing :-). Trus setelah itu Saya juga dapat beasiswa dari perusahaan Jepang dan uang capek sebagai asiten laboratorium. Akhirnya saya bisa beli hape… hehe.. ikut-ikutan bergaya seperti orang kota. Bagi saya, biar miskin yang penting sekolah dan gak ketinggalan zaman. Benar juga kata pepatah, dimana ada kemauan disitu ada jalan.

Iklan

3 Tanggapan

  1. saya ingin sekali seperti anda menjadi seorang dokter walau pengetahuanku dan penghasilan ayahku tak memadai namun saya masih punya pegangan yang sangat kuat untuk selalu memuji dan meminta kepadanya dialah rrobbi kita ALLAH SWT,, hanya kepadanyalah saya masih punya semangat dan percara diri untuk bermimpi yang tinggi yaitu menjadi seorang dokter.. insya ALLAH jika dzat yang maha sempurna menghendaki aku, maka ku akan berdoa serta belajar dengan sepenuh hati demi terwujudnya citaku untuk bisa kuliah di jurusan kedokteran dan menjadi seorang dokter yang berhasil dan sukses amin,,, ya rabbal alamin,, kabulkan ya ALLAH wahai dzat yang maha menggenggam seluruh rizki mahlukmu.

  2. Kalao Anda sih di jaman itu sewaktu uang semester masih 180.000 dan uang kos masih 15000 yaach masih etrgolong orang berada bro….bukan miskin namanya. Kalau miskin tuh yach kayak gue gini penghasila bokap cuman 250.000 pingin jadi dokter yang biayanya buat masuk aja min. 75.000.000 atau lebih malah nah itu bru miskin namanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: