Meningkatkan Kepuasan Pasien

Ketika anda mengetik frasa “kepuasan pasien”  melalui Google makan akan muncul sekitar 195,000 hasil telusur untuk kepuasan pasien. (0.21 detik) dan sekitar 21,200 hasil telusur untuk ketidakpuasan pasien. (0.32 detik). Hal ini bisa menunjukkan bahwa kepuasan pasien memang banyak dibahas dalam praktek pelayanan medis dan merupakan masalah serius yang menjadi perhatian utama penyedia layanan medis di Indonesia. Kasus malpraktek pada dasarnya muncul karena adanya ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan yang mereka terima.

Dokter dan sarana pelayanan kesehatan menghadapi 2 tantangan utama dalam hal ketidakpuasan pasien ini.

Pertama : pasien yang tidak puas karena masalah finansial, yakni biaya pelayanan kesehatan yang  mahal dengan perlayanan yang tidak pantas dan bahkan mengecewakan. Kalau kita melihat kasus Prita Mulyasari yang baru usai bermuara pada masalah ini. Pembayaran yang mahal dengan kepuasan yang minim. Pasien pasti tidak akan puas.

Kedua : pasien yang tidak kunjung sembuh atau membaik karena kesalahan pasien itu sendiri. Pasien2 ini juga kadang mengeluh tidak puas, padahal keberhasilan pengobatan terhambat karena ulah mereka sendiri. Misalnya untuk pasien yang tidak mau berusaha menurunkan berat badann (untuk beberapa penyakit menurunkan berat badan sangat penting), tidak mau mengontrol gula darah, pasien yang tidak mau merubah gaya hidupnya untuk menghindari makin beratnya suatu penyakit, atau pasien yang tidak patuh minum obat, ect..

Dalam hal ini, seorang dokter sangat penting agar bisa menyediakan waktu yang cukup untuk menjelaskan pada pasien mengapa suatu teknik pengobatan atau perubahan gaya hidup sangat perlu demi keberhasilan pengobatan. Namun memberikan penjelasan yang cukup ini akan  menemukan kendala bila pasien sangat banyak terutama di rumah sakit atau puskesmas dengan pasien yang sangat banyak. Ketika saya bertugas di puskesmas yang pasiennya sedikit (maksimal 15 orang perhari), cara ini bisa dilakukan. Namun pada saat sy pindah ke puskesmas dengan pasien rata-rata 50-100 orang perhari, rasannya sulit untuk memberikan penjelasan pada pasien. Menghela nafaspun kadang hampir tidak sempat, apalagi memberikan penjelasan yg detail pada pasien.

Saya melihat pasien sangat senang apabila kita sempat dan bisa menjelaskan dengan baik obat apa yang kita berikan dan bagaimana cara kerja obat (garis umum saja tentunya), untuk berapa lama?, efek samping apa yang bisa terjadi? apa akibatnya kalo obat dihentikan sebelum waktunya. Bila pasien paham dengan baik, pasien pasti akan mengikuti apa yang kita katakan dan tidak cepat beralih ke dokter yang lain. Kadang kalau pasien kurang mengerti dengan baik, bisa dituliskan di kertas  semua instruksi yg mesti dilakansakan pasien, tapi pastikan pasien bisa membaca tulisan dokter (makanya jadi dokter tulisannya harus bagus 🙂 hehe.. dokter terkenal karena tulisannya yg sulit dibaca pasien). Bila masih kurang yakin pasien akan bisa mengerti apa yag kita inginkan, jangan segan2 untuk memberikan nomor telepon pada pasien (Ini yang membuat hp saya cepat lowbatt… karena pasien sbentar2 nelpon.) Sampe sekarangpun masih sering ditelon padahal saya sdh pindah ke pulau lain.

Bagaimana bila dokter tidak punya waktu untuk menjelaskan semuanya pada pasien? Sebenarnya kalau masalah obat-obatan harus bisa dan harus dijelaskan oleh seorang apoteker atau asisten apoteker. Namun pada prakteknya, sepertinya sangat jarang apoteker yang akan menjelaskan seperti itu. Apoteker di tempat praktek saya malah hampir tidak pernah ada di apotik, namannya saja yang ada di atas kertas sebagai apoteker. Kalaupun ada, yang paling baik dan diterima penjelasaanya oleh pasien, biasanya adalah dokter. Tapi hal ini bisa disiasati dengan mengajarkan asisten apoteker atau perawat bagaimana cara menjelaskan segala sesuatunya pada pasien.

Bagi bidan dan perawat yang sudah pernah mengkuti pelatihan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), teknik konseling pemberian obat ini diajarkan dengan materi yang cukup bagus. Walapun pada prakteknya kurang berjalan mulus. Sy percaya, dengan komunikasi yang baik dan konseling pemberian obat yang baik juga, bisa mendongkrak kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan yang kita berikan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: