Pesan Sumur dan Bak Mandi

Beberapa waktu lalu saya ingin sekali menikmati matahari terbenam. Hari libur sy bertolak ke kota Meulaboh (Aceh Barat) mengunjungi sebuah pantai bersejarah dengan pemandangan sunset yang indah. Pantai Batu Putih namanya. Pantai dimana Teuku Umar tertembak oleh Belanda. Teuku Umar adalah seorang mujahid yang pernah memperdaya Belanda dengan pura-pura bergabung bersama Belanda yang kemudian membelot setelah mendapatkan persenjataan lengkap. Pantai Batu Putih juga sebagai saksi sejarah Tsunami. Menurut cerita yg beredar dikatakan bahwa pada malam tanggal 24 Desember 2004 sebelum terjadi Tsunami pantai ini dijadikan sebagai tempat maksiat. Para penari telanjang beraksi disana. Natalpun dirayakan di pantai ini. Setelah Tsunami garis pantainyapun menciut akibat kemarahan air laut walau tidak mengurangi pesona keindahannya. Bongkahan bangunan jembatan menjadi saksi bisu atas segala kejadian di tempat ini.

Ada satu hal yang “aneh” ketika aku kembali memperhatikan rumah2 yang tinggal fondasi saja. Bak mandi dan sebagian besar kamar mandi serta dinding sumur masih tegak berdiri. Bagian rumah yang lain sudah rata. Apakah karena strukturnya yang kuat atau ingin memberikan sebuah pesan pada manusia yang masih hidup. Mulut sumur dan bak mandi menganga dan seolah ingin mengatakan sesuatu. Mereka menyuruh kita untuk mandi…membersihkan diri dari segala noda dan dosa. Mungkin umat manusia sudah terlalu kotor…. (apalagi sy) Orang-orang yg masih selamat dan dulu tinggal di daerah ini pernah menceritakan betapa maksiat merajalela di pinggir pantai ini. Dulu banyak kafe di pinggir pantai. Malam hari jadi tempat yang paling nyaman untuk berbuat maksiat. Mulai dari korupsi sampe seks bebas jadi hal yang lumrah di negeri yang memproklamirkan diri sebagai Serambi Mekkah ini.

Matahari pun berlalu. Sunsetnya begitu indah. Namun ada semburat kesedihan yang mengiringi kepergiannya. Malam perlahan menjadi kelam. Azan maghribpun berkumandang syahdu. Aku berharap bisa bertobat sebelum matahari terbit dari tempat terbenamnya. Ketakutan menggerayangiku, merinding bulu romaku. Tiba2 saja aku ingat mati. Dosaku masih terlalu banyak. Masihkah aku bisa menyaksikan matahari terbit di esok hari untuk menebus kesalahan, membersihkan diri dan bertobat sebagaimana pesan sumur dan bak mandi di pinggir pantai ini ??

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: