Batu Nisan Itu

kuburan

Semburat merah di ufuk barat laksana pijaran lentera yang hampir padam. Kususuri jalan setapak pinggiran desa. Dari kejauhan kulihat banyak orang berkerumun dekat pemakaman desa. Sepertinya ada orang yang meninggal dunia. Sebuah keranda jenazah terlihat kosong disamping kuburan.

Satu persatu orang meninggalkan kuburan yang masih basah itu. Aku makin mendekat. Saya penasaran ingin mengetahui siapa yang telah berpulangke rahmatullah. Meninggalkan dunia yang melenakan ini. Alangkah bahagianya sang mayat, bila ia disambut dengan senyum simpul malaikat dan ditemani amalan kebajikannya di alam barzak. Namun alangkah sengsaranya ia bila harus berhadapan dengan kebengisan Munkar dan Nakir.

Semakin dekat kuperhatikan batu nisan yang terpancang di atas kuburan. Astaghfirullahul azhiim. Apa saya tidak salah lihat. Kucoba mengucek mataku dan mencubit kupingku. Hmm.. sakit. Berarti ini alam nyata. Kok namanya sama dengan namaku??. Kuperhatikan tanggal lahir dan kematiannya,  semoga kebetulan ada orang yang sama namanya dengan namaku.  Tapi setahuku di desa ini tidak seorangpun yang memiliki nama yang sama denganku. Hah.. tanggal lahirnya sama persis dengan tanggal lahirku. Kubaca lagi ukiran huruf di batu nisan : Ya Allah…. aku makin terperanjat…pikiran tidak menentu..

Aku sudah meninggal? Ya.. Allah aku belum mau meninggal. Masih terlalu banyak dosaku. Aku belum sempat mengabdi pada orang tua… Blm siap untuk mati.. aku takut neraka. Aku masih belum pantas di surgaMu. Aku menyusul orang-orang yang telah meninggalkan tempat pemakaman. Akan kutanyakan siapa sebenarnya yang telah meninggal. Aku masih hidup, tapi kok namaku sudah ada di batu nisan.

Ibuku.. Aku menghamprinya. Matanya masih basah. Adik perempuanku juga demikian. Terisak sambil memeluk ibuku menyusuri jalan pulang dari pemakaman. Aku menghampiri mereka. Tapi kok mereka tidak menghiraukan aku?
Kupanggil ibuku, kupegang tangannya. Ibu… Ini aku. Tapi… kok…Tidak ada respon sama sekali. Suaraku sudah tidak mereka dengar lagi…Mereka tak lagi mampu melihatku. Mata mereka tidak mampu menembus alam yang memisahkan kami. Aku hanya bisa berteriak sekeras-kerasnya dan masih berharap ini semua adalah mimpi buruk.
Andai aku masih bisa hidup kembali. Saya hanya ingin beribadah saja kepada-Mu.Tapi semua sudah terlambat. Saatnya untuk mempertanggungjawabkan segala sesuatunya..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: