Kriteria Dokter yang Baik

Ada satu fenomena yang sering kita temukan di masyarakat tentang kriteria dokter yang baik atau dokter teladan. Kebetulan tahun 2008 lalu saya dapat penghargaan dari bupati setempat sebagai dokter teladan tingkat puskesmas. Namun kriteria dokter teladan mungkin berbeda dengan kriteria dokter yang baik. Karena pada dasarnya saya bukanlah dokter yang baik2 amat 🙂. Walaupun menurut istri saya, saya terlalu baik sama pasien. Hehe.. Kadang kita melihat dua dokter yang praktek di satu tempat dengan jumlah kunjungan pasien yang sangat berbeda. Kadang saya bertanya pada pasien, kenapa tidak ke dokter A saja. Disana kan lebih dekat dari rumah pasien? Ada yang mengatakan “Dokter disini lebih baik” atau “Saya lebih serasi dengan dokter disini” atau “Obat disini lebih manjur” atau “Dokternya baek banget” atau “Dokter disana mahal”

Sebenarnya kriteria dokter yang baik itu bagaimana ? Namun kalau kita mau mengikuti kriteria baik menurut pasien atau konsumen, sebenarnya agak berat. Terutama “Dokter harus selalu siap melayani pasien 24 jam… Tapi kalo bg sy gpp, yang penting pasien juga menghargai pekerjaan saya dan harus mengakui bahwa dokter juga adalah manusia biasa yang memiliki banyak keterbatasan dan memiliki keluarga yang juga butuh perhatian. Berikut beberapa pendapat yang saya peroleh dari berbagai forum diskusi dan pendapat pemakai jasa dokter atau yang dikenan dengan istilah “Pasien”:

Ada beberapa kriteria dokter yang baik dan bagus menurut pandangan Kami sebagai konsumen kesehatan di Indonesia (ghozan.blogsome.com)

1. Dokter yang Komunikatif

Kenapa diperlukan dokter yang komunikatif adalah agar supaya arus komunikasi kita tidak macet alias dua arah, sehinga Kita bisa mendapatkan atau meminta informasi yang sejelas-jelasnya. Paling tidak 5W2H (What, When, Where, Why, Who, How, How Much) terpenuhi.

2. Dokternya mau mendengarkan

Ini penting sekali, tidak sedikit dijumpai dokter yang langsung mengambil kesimpulan tanpa mau mendengarkan penjelasan dari si pasien secara utuh/ detail.
Si pasien baru menyampaikan sepatah dua patah kalimat sudah langsung di cut.

3. Dokternya tidak arrogant

Kalau sudah seperti ini, apa yang mau diharapkan.
Bagaimana komunikasi terbentuk kalau kemudian dokter hanya memandang sebelah mata terhadap si pasien, seolah-olah dialah yang paling tahu segala-galanya…dengan menganggap pasien tidak tahu apa-apa.
Atau kemudian yang keluar adalah kata-kata yang tidak mengenakan untuk di dengar.
Mohon maaf…sekedar contoh dari pengalaman Kami….

– Saya ini sudah tua…sudah praktek berpuluh-puluh tahun lebih tahu dari Anda.
– Saya ini kuliahnya bertahun-tahun, bukan cuma dari internet.

Perlu Kita sadari bersama……bahwa dunia ini berputar…teknologi berkembang dengan cepatnya….pun dunia kedokteran.
Barangakali yang dulu disampaikan A bisa saja karena perkembangan dunia dan sebab-sebab lainnya berubah menjadi B, sementara Kita wabil khusus dokter tentu dituntut untuk selalu update dalam segala macam informasi.

4. Dokternya mengerti kewajiban dan hak pasien maupun maupun hak dan
kewajiban dokter.

Tanpa harus ditanya, seandainya informasi itu memang perlu untuk disampaikan ke pasien barangkali saja pasiennya lupa tentu sampaikan juga.
Sampaikan bahwa obat ini begini…begini dan begini…..efek sampingnya begini..begini…dan begini…..
Lebih baik pakai yang generik karena begini…begini..dan begini…..kalau memang harus membeli yang patent sampaikan dengan jujur kareana alasan medis terhadap si pasien…mungkin saja alregi…dlsb.

5. Dokternya melakukan tatalaksana sesuai dengan guideline yang sudah
ada.

Ini yang paling sering menjadi masalah, karena kita tidak tahu semua tatalaksana dari
setiap penyakit, dan untuk itu Kita mengunjungi dokter.
Nah biasanya kita baru sadar setelah mendapatkan 2nd opinion atau 3rd opinion dari dokter yang lain, atau setelah membaca-baca informasi dari internet, baik lewat postingan teman, milis atau web site.

Perlu kita sadari bersama….bahwa informasi di internet tidak 100% benar, bahkan Kita harus pandai-pandai mencari informasi dari sumber yang reliable, bahkan salah informasi bisa berakibat fatal.

6. Dokternya rasional dalam penggunaan obat atau terapi apapun

Ini juga sangat penting sekali terkait dengan ESO (Efek samping Obat)
Tidak sedikit dokter yang dengan mudahnya meresepkan 4 sampai 5 obat dalam sekali kunjungan, dan anehnya dari pengalaman saya setelah bertanya-tanya ke teman (dokter) dan internet dan juga sharing dari para orang tua…tidak sedikit obat yang diresepkan hanya satu atau dua saja yang berhubungan dengan diagnosanya, selebihnya tidak……………..

Sungguh sangat ironis memang…..dan memang sudah menjadi rahasia umum mohon maaf…tidak sedikit dokter yang “bermain” dengan industri farmasi.

Sehingga bukan saja pasien yang dirugikan…selain mahal juga tubuh yang lama-kelamaan bisa menjadi resisten dan teracuni sehingga merusak organ tubuh…terutama yang mudah di serang adalah liver dan ginjal. tentu juga merusak citra profesionalism dunia kedokteran di Indonesia.

Dan ini sudah terbukti sekarang di tengah-tengah masyarakat berkembang fenomena enggan berkunjung ke dokter.

Ironis…sungguh sangat ironis dan sangat prihatin sekali saya.

Entah sampai kapan akan seperti ini……

7. Dokternya tidak commercial

Beda tipis dengan point no 6 caranya adalah dengan memperbanyak pemeriksaan atau terapi yang tidak dibutuhkan. Ceritanya sih untuk menegakkan diagnose.

8. Dokternya bersedia dihubungi bila kita butuh bantuan by phone, sms atau juga e-mail.

9. Dokternya antrian pasiennya pendek.

Ini pendapat lain (medisiana.com)

Yang jelas dokter harus tau kapabilitasnya sebagai seorang dokter… he he he..
Yang pasti dokter kalo dikeluh-kesahi ma pasien g boleh diam aj ato cuman mengangguk-anggukin kepala apalagi geleng-geleng…
Selalu tersenyum dan katakan ma pasien ohh, ga pa pa… cuman biasa kok.. tp ya tergantung dingg, tergantung suasana pasien..
Ajaklah pasien ngobrol kayak temen… he he he..
Ya emang dokter itu juga manusia tp kan pasien pingin tahu segala hal yang menimpa dirinya, so kalo pasien tanya hal2 yg sepele ato g masuk akal.. yang sabar ya… dookkkk..

Sebagai seorang pasien, saya merasa paling nyaman bila berkonsultasi pada dokter yang ramah, bisa diajak “ngobrol”, tidak menganggap rendah pasiennya, dan terbuka.

Saya memiliki pengalaman pribadi bkenaan dgn kriteria “dokter yg baik”. Mungkin saya bisa men-sharingnya di sini.

RAMAH
Adalah Dr. Suksmono Sp. PD., namanya. Beliau adalah dokter yg sangaaat ramah. Ketika saya memasuki ruang periksa, ia langsung menyapa “hallo” seraya mengembangkan senyum dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Tatapan matanya pun terkesan hangat dan ramah. Welcome banget deh…

PENDENGAR YG BAIK

Berikutnya dr. Suksmono tdk lgs menanyakan keluhan saya, melainkan mencairkan suasana dulu dgn mengobrol ringan. Setelah dilihatnya saya cukup relaks (hebat! dia bisa tahu bahwa saya sedang nervous dan tahu kpn saya sudah mrasa lbh baik), baru ia meminta saya menceritakan semua keluhan saya (dia membiarkan saya bercerita sementara dirinya mendengarkan tanpa menyela sama sekali. Hmm…).

KESETARAAN
Setelah sesi “curhat” singkat berakhir, barulah dokter melakukan prosedur pemeriksaan fisik (tidak ada yg istimewa slama prosedur ini dilakukan). Selesai memeriksa beliau mulai mengajukan sjumlah pertanyaan. Menariknya saya tidak mrasakan ada kesan “saya dokter, kamu pasien, maka saya lebih tahu” selama interview berlangsung. Bahkan sesekali ia masih sempat menyelipkan gurauan disana sini.

TERBUKA
Sampai pada tahap diagnosis, dokter menjelaskan kepada saya apa dan kenapanya. Bila saya terlihat tdk paham, beliau tdk keberatan mengulanginya dan membiarkan saya mengajukan pertanyaan. Tidak ada yg ditutup2innya. Kalau sehat ya dibilang sehat, kalau sakit ya dibilang sakit. Tapi cara menyampaikannya tidak spt hakim yg sdg menjatuhi vonis hukuman. Semuanya dijelaskan dalam bahasa yang mudah dipahami.

yah… kurang lebih begitulah. Saya benar2 berpendapat bahwa beliau adalah dokter yang sangat baik. Konsultasi dengannya seperti konsultasi dgn teman saja. Bisa curhat dan tertawa2. Salut untuk dokter. (^^)

Yang ini lain lagi : Dokter yang baik :

1. Yang bener bener mengabdi pada masyarakat, nggak pilih pilih tempat untuk praktek baik itu di kota, didesa, dikampung ato dipelosok.

2. Siap dipanggil kapan saja apabila dibutuhkan pasien, baik itu tengah malam sekalipun ( Tentunya dokternya dalam kondisi fit)

3. Untuk pasien miskin tak terlalu menuntut bayaran yang mahal

4. Menjunjung tinggi kode etik kedokterannya dalam berpraktek. Tak menyalahgunakan profesinya untuk hal hal yang maksiat, aborsi, mal praktek

5. Santun dan ramah kepada pasien, tidak marah marah aja.

Jadi kesimpulan saya, untuk menjadi dokter yang baik cukup dengan melakukan 5 hal berikut :

1. Dokter yang selalu mengingat Allah dalam melaksanakan profesinya dan menyadari bahwa ilmu yang dimilikinya adalah anugrah Allah untuk beribadah dan kemanusiaan.

2. Dokter yang memahami bagaimana seharusnya hubungan antara dokter-pasien terutama menjalin komunikasi dan kerjasama yang baik.

3. Dokter yang memahami apa yang menjadi hak dan kewajiban sebagai dokter dan hak serta kewajiban pasien.

4. Dokter yang memegang teguh sumpah dokter dan etika kedokteran.

5. Dokter yang profesional dan selalu meningkatkan kemampuannya mengikuti perkembangan iotek serta bertindak seseuai prosedur/guideline yang berlaku di tempat kerjanya.

(Karang Menjangan,2 April 2009)

Iklan

8 Tanggapan

  1. membaca tulisan di atas jadi mengenang jasa baik salah satu dokter di RS Haji surabaya dr Kuniadi SPJ yang merawat mendiang ayah…

    sabar, menghargai semua pasien dan keluarganya, ramah, komunikatif, mau mendengar keluhan pasien dan keluarganya dan walaupun dari beberapa sumber dari RS sempat saya mendengar beliau juga sedang mengidap suatu penyakit tapi dengan tulus tetap memperhatikan kesehatan pasiennya yang menjadi bagian dari tugasnya.

    Semoga ALLAH SWT selalu melindungi beliau, diberikan kesabaran dan kekuatan AMIN…

  2. WOWW. Pendapat saya ternyata dikutip disini… Hallo, saya neia yang menulis tentang kriteria dokter yang baik di forum medisiana. Sampai skrg penilaian saya thadap dr. suksmono tetap sama, beliau memang dokter yang sangat baik! sampai skrg saya masih kontrol rutin dgn beliau. two thumbs up deh… bner2 recommended doctor. mudah2an bisa dijadikan teladan buat dr. yg lain.

  3. semoga aku bisa jd penerus dr.suksomono. amin ya alloh…

  4. tulisan ini bnar2 menginspirasi saya…smoga saya kelak bisa jadi dokter yang baik pula..amin..

  5. Assalamualaikum dokter…terima kasih atas tips2 & informasinya….saya memang sengaja mencari tulisan tentang ini….saya memang sedang berkonsultasi dengan seorang dokter kandungan…tetapi saya tidak mendapatkan apa yang disebut komunikasi dua arah itu….dan bodohnya saya setiap konsultasi daftar pertanyaan yang sudah saya buat atau pikirkan hilang sejenak saat berhadapan dokter itu….contohnya untuk kasus ini (sekalian saya mau tanya ya dok…) dokter kandungan tersebut meminta saya untuk datang kembali saat haid pertama saya, saya tanya untuk apa, beliau bilang untuk “ditiup” daerah V saya…untuk mengatahui ada penyumbatan tuba valoppi atau tidak. Saat itu saya hanya ngangguk2 saja. Sampai rumah saya baru berfikir dan bertanya apa itu ditiup..saya search diinternet istilah itu bisa berarti hydrotubasi. saya kaget baca artikel diinternet yg ternyata hydrotubasi itu hanya bisa dilakukan setelah masa menstruasi berakhir…..nahlo saya jadi bingung…bodohnya saya belum menanyakan nomer telepon dokter trsebut…beliau juga tidak menawarkan……sekarang saya jadi ketakutan sendiri….pikiran saya jadi negatif sama dokter tersebut…tapi saya takut suudzon juga atau salah…..mohon petunjuknya ya dokter…semoga dokter mau menanggapinya…terimakasih banyak

  6. Wow! Kutipan testimoni tentang dr Suksmono itu tulisan saya sewaktu masih aktif ikut forum di Medisiana. Beliau memang dokter yang sangat baik. Praktiknya di RS Karya Bakti Bogor. Sudah lama tidak kontrol ke beliau karena sekarang saya tinggal di Jakarta. Semoga cerita saya bisa jadi teladan dan semakin banyak dokter2 baik seperti beliau. Sukses ya dok!

    Greeting,
    Renny Puspita

  7. sbnrnya ingin menambahkan kriteria dokter yg baik dari sudut pandang perawat jg ;D. hehehe…. dan memang, dctr suksmono termasuk salah satunya ^-^

  8. Saya sependapat mengenai dokter Suksmono. Itu sebabnya meski tetangga saya juga Sp PD yang berpraktek di RSKB tapi saya memilih berobat di dokter Suksmono.

    Sapaan kita memang selalu dijawab dengan hangat, termasuk bersalaman. Pasien memang butuh dokter yang komunikatif. Satu orang lagi adalah onkologis saya di RSKB juga yang sayangnya sulit ditemui karena pekerjaan tetap beliau di RSKD. Onkologis ini bersedia dihubungi dengan HP dan mau mendiskusikan medical matters dengan pasiennya secara dua arah. Acung jempol untuk keduanya.

    Salam.

    Julie Utami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: