Ketika Kepornoan Dipaksakan untuk Murid SD

Makin dilarang, pornografi makin merajalela. Beberapa hari yg lalu, buku palajaran SD yg disipi gambar2 porno dan tak pantas dilihat oleh anak2 beredar di beberapa SD di Pekalongan. Gadis stengah telanjang dipertontonkan. Adegan mesum dipampang jelas. Buku tersebut berasal dari Depdiknas dengan terbitan Erlangga. Apakah itu kelalaian atau kesengajaan ?

Semoga kejadian ini hanyalah kelalaian belaka. Kalau tidak, Depdiknas bisa dijerat dengan Undang-undang Pornografi :-). Ataukah ada unsur kesengajaan dengan berdalih bahwa buku itu adalah pelajaran kesenian. Karena menurut para seniman “aneh” lekuk tubuh wanita telanjang adalah seni 🙂

Atau mungkin juga buku tersebut adalah bagian dari pelajaran IPA Biologi untuk mengenalkan bagian-bagian tubuh manusia. Wah.. Canggih skali buku pelajaran zaman sekarang. Mungkin nantinya akan diusulkan gambar gadis bugil untuk mempelajari bagian2 tubuh manusia agar makin menarik belajarnya. Yah… Mau dibawa kemana generasi bangsa ini bila sejak SD sudah dijejali dengan hal2 yang amoral. Semoga Depdiknas lebih berhati-hati dalam hal ini.

Iklan

2 Tanggapan

  1. klu yg dimunculkan di buku IPA biologi dlm pelajaran tsb adalah semisal gambar 2 bersdr azhari atau gambar nyleneh lain yg tentunya semua orng dewasa dan anak SD sekalipun yg melihat bisa “menahan napas” saya sepakat dengan judul di atas.

  2. Mengapa pornografi dilarang….
    semakin dilarang, hal akan semakin dicari…
    semakin dilarang, hal akan semakin menarik…
    semakin dilarang, hal akan semakin mahal…

    karena pada dasarnya yang salah bukan pornonya….
    manusia nya…
    Coba ditengok jauh ke masa yang lewat…
    kalau mau tau, ada film yang selalu tidak lolos sensor, karena adegan telanjang dan scene perkelaminan… namun yang sekarang dicari adalah potongan film yang ada di badan sensor… artinya, film itu sebenarnya tidak dipotong untuk dibuang, tetapi dipotong untuk disimpan….(karena semaikin dilarang, hal semakin mahal…)…
    dan sekarang kita bisa menemuinya di mana saja di internet, film lama versi potongan sensor….
    MANUSIA…

    kembali ke buku…
    kalau saya boleh usul, bagaimana kalau buku pelajaran atau bacaan atau referensi itu HANYA diterbitkan dan dijual atau dibagikan untuk guru?
    baru kemudian guru yang wajib menularkan kepada anak didik, dengan cara apa saja. membuat buka ringkasannya, membuat soal dan masalahnya, mengajak diskusi dan berwacana, bahkan untuk anak SD pun, sudah selayaknya metode ini dicoba….(jangan meremehkan kemampuan anak…)

    Menurut saya, bangunan konsep belajar itu akan membuat semua menjadi lebih baik….
    guru belajar lebih tekun, tanpa memikirkan berapa bayaran yang akan dipotong akhir bulan besok… murid semakin mengerti cara mendengar dan mengutarakan pikiran…. dan penerbit tidak akan berlomba menjual bukunya, karena semua buku adalah urusan pemerintah yang akan menjadikan guru sebagai suri toladan yang menguasai materi pelajaran…..

    terimakasih…
    mohon maaf bila keterlaluan…
    salam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: