Sulitnya Menjerat Dokter

Kasus yang diduga malpraktek sebenarnya sudah begitu banyak. Namun sampai saat ini hanya satu-dua kasus yang berhasil menjerat dokter sampai ke pengadilan. Banyak kasus yang berhenti di tengah jalan, karena terbentur pada banyak hal. Begitu sulitkah menjerat dokter dalam kasus malpraktik? Hehe…. Ada kawan saya yg mengatakan bahwa mafia terbesar di Indonesia adalah Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Berikut ini beberapa alasan mengapa sulit menjerat dokter :

1. Dokter masih menduduki strata teratas dalam kedudukan sosial masyarakat. Tatkala dokter melakukan suatu kesalahan yang kadang berakibat fatal pada pasien, kebanyakan diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Disamping pasien juga tidak mengetahui bahwa dampak buruk dari tindakan medis yang diterimanya adalah akibat kelalaian dokter.

2. Sulit mencari dokter pembanding yang independen dalam hal mencari second opinion dalam pembuktian kasus. Semua dokter yg ada di Indonesia tergabung dalam satu wadah organisasi profesi yg bernama IDI. Sumpah jabatan mewajibkan dokter secara etika harus saling melindungi, termasuk dalam kasus malpraktek.

3. Banyak istilah dan terminologi kedokteran yang tidak dimengerti oleh pelaku hukum. Hal ini jelas menyulitkan ahli hukum dan kepolisian dalam mengusut kasus malpraktek.

4. Prosedur tindakan medis yang terstandarisasi hanya bisa dimengerti dengan baik oleh insan medis. Sarjana hukum akan menemukan kesulitan dalam hal ini.

5. Dokter punya sumpah untuk saling melindungi teman sejawat termasuk keluarga teman sejawat. Tatkala bersaksi atas kasus yang menimpa teman sejawat, sumpah dokter di atas segalanya. Tidak mungkin menjerumuakan teman sejawat. Saksi ahli dalam kasus malpraktek yang terkait dengan delik medis hanya boleh dari tenaga dokter.

6. Banyak dokter juga merangkap gelar sebagai sarjana hukum, bahkan master hukum. Mereka menyandang gelar tambahan tersebut bukan untuk menjerat dokter tapi untuk membantu dan bahkan melindungi dokter dari delik hukum.

Masih berani coba2 menjerat dokter ..?

Iklan

6 Tanggapan

  1. Makanya saya tidak berani macam-macam ama dokter. ha ha ha

  2. Memang sulit. Tapi dokter hendaknya mengingat bahwa lebih menguntungkan menerima hukum di dunia dari pada di akhirat.

  3. Wah, jangan terlalu PD OM DOkter, Dunia semakin berubah, masyarakat semakin terdidik, perkembangan sosiokutural masyarakat indonesia kalo saya rasakan mirip amerika. disana pertahun ada sekitar 20-30 ribu tuntutan malpraktek dari pasien. seperlimanya dokter kalah dan harus “membayar kerugian” gelombang disana suatu saat akan sampai juga ke teras praktek anda.

  4. Sebenarnya bukan terlali PD. Namun itulah realitas yang ada sekarang. Gugatan itu sangat perlu demi evaluasi kinerja dokter dan agar dokter tetap mau belajar dan hati2 dlm menangani pasien.

  5. Sepakat dengan sdr.Masfuri untuk komentar yang cerdas dan bernalar 🙂

  6. Kami akan membantu untuk temen2 menuntut dokter… tidak ada yang kebal hukum di negara ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: