Menikah tidak mesti kawin

Seorang kiai kaya raya, Syekh Puji, mengaku akan menikahi dua bocah lagi, umurnya 9 dan 7 tahun. Keduanya akan dinikahi sekaligus dengan Lutfiana Ulfa (12). Kalau pernikahan itu terwujud, Syekh Puji memiliki empat istri. Pernikahan dengan para bocah itu akan dilangsungkan dalam waktu dekat atau bahkan dalam minggu-minggu ini. Pada pernikahan itu Puji akan menikahi tiga gadis di bawah umur sekaligus, salah satunya adalah Lutfiana Ulfa. Namun, kiai bernama asli Pujiono Cahyo Widianto (43) itu masih merahasiakan nama kedua bocah yang juga bakal menjadi istrinya. (Kompas.com)

Berita ini sempat membuat heboh di berbagai media massa. Hampir sekaliber berita tentang pernikahan Aa Gym dengan isteri keduanya. Namun menurut saya yang awam ini menikah lebih dengan anak dibawah umur sah-sah saja. Ada beberapa alasan :

  1. Beliau “hanya” menikah saja dengan gadis dibawah umur tersebut. Tidak mencampurinya sampai ia matang secara fisik (aqil baligh). Syekh Puji sudah mengatakan demikian. Tentang kekhawatiran ketidaksiapan secara psikis saya pikir itu relatif. Seorang wanita yang sudah haid berarti sudah siap untuk hamil baik secara fisik maupun maupun psikologis.
  2. Tak ada larangan yang jelas dalam agama untuk menikahi wanita di bawah umur. (maaf kalau saya belum tahu) Yang penting menikah dengan wanita, bukan dengan sesama jenis. Pasangan lesbian dan gay kok tidak diributkan dan tidak dijerat hukum. Padahal kehidupan seperti itu adalah kehidupan yang dilaknat oleh Allah. Negeri yang aneh….. !!!
  3. Menikah dengan lebih dari satu wanita diperbolehkan. Beliau tidak melebihi batas maksimum kok. Hanya empat wanita.
  4. Melanggar UU Perkawinan bukanlah “dosa” yang mesti dipertanggungjawabkan di akhirat. Undang-undang itu dibuat oleh manusia. Sepengetahuan beliau sebagai “kyai”, apa yang beliau lakukan bukanlah perbuatan dosa. Jangan sampai kita yang memiliki pengetahuan yang terbatas tentang agama, menafikkan panggilan kyai yang disandang oleh beliau.
  5. Syech Puji “mungkin” ingin mendidik mereka sebelum benar-benar menjalankan kewajiban mereka sebagai istri secara penuh. Dengan cara demikian mungkin istri-istrinya nanti lebih mudah diarahkan dan dibimbing sesuai dengan keinginan beliau. Jadi jangan buru-buru berprasangkan buruk dulu pada beliau. Doyan perempuanlah, mencari sensasi dan ketenaranlah….. kalo gak benar tuduhan tersebut.. maka berdosalah semua tukang fitnah itu..
Iklan

6 Tanggapan

  1. Izinkan saya untuk tidak setuju dengan Anda. 🙂

    1. Pengakuan yang bersangkutan bahwa ia tidak melakukan hubungan intim dengan anak tersebut tidak lantas membuat wacana seks di sini jadi tidak valid. Sebab tetap saja salam kasus ini sang Syekh telah “mengamankan” hak untuk melakukan hubungan intim itu di kemudian hari—padahal sang anak belum tentu mau “dikapling” oleh seseorang yang pantas jadi ayahnya.

    2. “Tidak ditemukan”? Di dunia binatang telah ditemukan 1,500 spesies dengan tendensi homoseksualitas dan biseksualitas, 500 di antara didokumentasikan secara ilmiah. Silakan telusuri dengan mesin pencari.

    3. Mengapa basis pembelaan Anda melulu agama? Isu yang ada juga menyangkut moralitas modern dan hukum positif. Lagipula, terdapat perbedaan pendapat dalam mengobservasi kasus ini lewat kacamata teologis.

    4. Memang tidak akan dipertanggungjawabkan di akhirat, seperti yang saya katakan, walaupun beliau bersih di mana Tuhan, hukum positif tetap mesti dijalankan. Kita berdiri di negara hukum yang multikultural—agama Anda, beliau, atau saya, tidak berlaku secara universal dan tidak boleh mendikte moralitas orang lain.

    5. “Pendidikan” semacam ini sudah saya bahas di poin 1.

    Salam kenal, Pak Dokter. 🙂

    Salam kenal juga 🙂 Hehe…. makasih koreksinya. Mungkin karena minimnya pengetahuan saya tentang dunia hewan, sy belum tahu akan adanya “kecenderungan” aneh itu. Namun hal itu sebatas kecenderungan kan? Sy belum pernah melihat kucing jantan kawin sama kucing jantan 🙂

    Walau mungkin anda tidak terima, saya akan selalu beragumen berbasis Islam, karena saya melihatnya dalam kacamata Islam (saya juga hanya memiliki pengetahuan yg sedikit untuk berargumen dengan basis lain), bukan dalam perspektif universal ataupun hukum positif.

    Terima kasih

  2. sampai disini saya pribadi masih setuju dengan anda

    Allhamdulillah ada juga yang setuju

  3. Pak Dokter, coba bayangkan seandainya ulfa adalah adik atau anaknya Pak Dokter, pada zaman ini. Bukan zaman rosullulah.
    Hiiiii……………. Ngeri…….
    Kalau memang mengikuti sunah nabi, coba Syekh Puji suruh suruh nikahi janda tua dan jelek.
    Hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii Ngeri juga……………
    Sorry ya Pak Dokter, salam……………

  4. >Seorang wanita yang sudah haid berarti sudah siap untuk hamil baik secara fisik maupun maupun psikologis.<

    Seorang wanita disarankan baru boleh melakukan hubungan setelah kurang lebih 7 atau minimal 5 tahun setelah mendapat haid. Karena organ reproduksi wanita belum siap untuk itu dalam hal hubungan. Karena akan berdampak kanker rahim nantinya. Kanker rahim juga disebabkan karena daerah reproduksi wanita terkena benda tumpul pada usia yang belum cukup. Jadi saya tidak setuju, jika pada usia baru mendapat haid sudah melakukan campur ataupun melahirkan.

    Selebihnya saya setuju, krena Rasulullah menikahi Aisyah pada saat Aisyah masih kecil. Namun yang perlu diingat, Nabi Muhammad HANYA MENIKAHI belum KAWIN pada saat itu. Nabi Muhammad menunggu saat Aisyah sudah memasuki masa dewasa.

    Tapi,yang saya lihat di media, kalau orangtua Ulva di-iming2’i mobil ole S.Puji untuk menikahi Ulva. Apa bedanya dengan jaman Siti Nurbaya.

  5. Pak Dokt er, saya setuju dengan tulisan Anda. Mestinya kita mengedepankan prasangka baik dalam menilai seseorang, termasuk Syekh Puji. jaman skarang kalau yang baik-baik, slalu saja ada yg protes. Smangat dok

    Waduh Puang….
    Minta maaf, baru buka blog lagi. Minggu lalu saya pelatihan. Gak sempat balas komentnya. No HP sya bisa didapat kalau lg chatting YM….

  6. akur kang dokter 😀 …..
    Biasalah kaum SEPILIS (Sekuler, Pluralis, Liberalis) jika mengkaji sesuatu lebih mengedepankan logika, bukan keyakinan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: