Seribu Suntikan

Ada satu kebiasaan masyarakat pedalaman yang kurang baik untuk kesehatan, yakni bila mereka datang ke dokter atau mantri merasa tidak diobati bila tidak disuntik. Terutama pasien yang sudah berumur. Tiga tahun silam ketika saya bertugas di Sinabang (Pulau Simeulue) saat pengobatan massal banyak pasien yang tidak mau pulang setelah diberikan obat namun tidak disuntik.
Akhirnya untuk pengobatan massal berikutnya ada salah seorang perawat yang hanya bertugas menyuntik saja. Walau yang disuntikan hanya vitamin B1 atau B12. Dalam bbrp hari saja, sudah mencapai seribu suntikan. Ini dihitung dari jumlah ampul obat yang habis.

Ada beberapa hal yang menyebabkan kebiasaan ini terjadi :
1. Petugas medis dan paramedis membiasakan pasien dengan suntikan. Tiap kali pasien datang berobat, pasti disuntik. Lama-kelamaan pasien terbiasa demikian. Kalau berobat mesti disuntik. Mungkin salah satu alasan tenaga medis melakukan hal ini karena dengan menyuntik dapat mempercepat efek obat dan dapat menarik bayaran yang lebih dari pasien. Lumayan kan.. Kalau satu bokong 20 ribu, dua bokong berarti 40 ribu 🙂

2. Kurangnya pengetahuan masyarakat. Sangat jarang pasien yang mau mengetahui efek samping obat yang diberikan kepadanya di kemudian hari. Hal yang terpenting bagi mereka adalah kesembuhan. Bila mereka cepat baikan, mereka masih akan kembali ke dokter/mantri yang bersangkutan, namun bila dalam 1-2 hari tidak ada perbaikan mereka pasti akan beralih ke lain dokter. Padahal ada obat-obat tertentu yang efeknya nanti beberapa hari baru terasa.

3. Dokterpun tidak ingin kehilangan pasien. Bila pasien cepat baikan, mereka pasti masih mau kembali. Jika tidak, mereka pasti mencari dokter lain. Obat suntik (injeksi) jelas memberikan efek yang lebih cepat dan lebih kuat dibandingkan obat oral. Obat intravena sudah mulai bekerja dalam beberapa detik dan obat intramuskular bekerja dalam belasan menit. Obat oral paling cepat bekerja dalam 2-4 jam setelah diminum. Pilih mana?

Namun ada satu hal yang perlu diingat bahwa obat adalah racun yang kadarnya kecil. Tidak satupun obat yang tidak punya efek samping. Obat suntikan mempunyai kerugian dan kelemahan, antara lain :
1. Dapat menyebabkan syok anafilaktik, yakni keadaan dimana seluruh pembuluh darah bisa kolaps-kempes sehingga bisa menyebabkan kematian dalam waktu singkat, terutama suntikan intravena. Saya banyak menemui kasus syok namun tidak sampai pada syok anafilaktik. Namun, alhamdulillah tidak ada yg meninggal. Biasanya pasien langsung tobat untuk disuntik 🙂

2. Bisa menyebabkan abses (bisul) di tempat suntikan. Ini untuk suntikkan intramuskular (dalam otot). Kasusnya lumayan banyak. Hal ini juga bisa membuat pasien tobat untuk disuntik.

3. Dalam jangka panjang lebih cepat menyebabkan kerusakan ginjal dan hati.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. kalo saya seneng disuntik dibokong, tapi yang nyuntik harus cewek (bu dokter atau suster)…Apakah itu kelainan??

    @Jabir
    Itu normal kok…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: