Hikayat Jilbab Aceh

Alkisah, pekan raya budaya melayu tahun ini diadakan di Banda Aceh. Acara ini diikuti oleh 13 negara yg mempunyai rumpun melayu. Kebetulan sy sedang di Banda Aceh dalam rangka mengikuti pelatihan. Pawai di pagi hari tanggal 20 Agustus begitu meriah. Jalan2 sempat macet. Sore hari sy menyempatkan diri ke Masjid Baiturrahman. Di sana ada pameran manuskrip melayu kuno dan foto-foto pahlawan Aceh dari jaman ke jaman sampai pada MoU perdamaian RI-GAM di Helsinki. Pahlawan wanita ternyata lebih banyak. Namun yg mengherankan, kok tidak ada satupun yg pake jilbab yg sebenarnya. Palingan hanya ‘selendang’ yg nyangkut di rambut. Coba lihat foto Cut Nyak Dhien, Cut, Keumalahayati, Cut Meutia, Pocut Baren, dkk. Tidak ada satupun yg pake jilbab. Sy mengambil kesimpulan berarti dahulu kala tidak ada kewajiban pake jilbab di Aceh. Jadi kewajiban pake jilbab di Aceh sejak kapan? Bukankah sejak dahulu Aceh sudah dikenal sebagai Serambi Mekah?

Ternyata Aceh dikenal sebagai Serambi Mekah bukan karena Aceh telah menerapkan Syariat Islam sejak dulu. Tapi dulunya Aceh adalah tempat transit terakhir seluruh calon jamaah haji dari seluruh nusantara sebelum ke tanah suci Mekkah. Dulu calon jamaah haji mesti pakai kapal laut ke Arab Saudi. Aceh yg paling dekat bila dibandingkan dgn daerah lain. Sehingga semua jamaah haji berkumpul dan dikarantina di Aceh. Jadi ‘serambi’ disini dimaknai sebagai tempat awal sebelum sampai ke Mekkah, bukan karena Aceh mirip dengan Mekkah yg sangat kental suasana keislamanya dan sebagian besar syariat sudah diterapkan. Aceh hanya sebatas ‘serambi’ saja sebelum sampai ke Mekkah.

Kewajiban memakai jilbab secara resmi ditetapkan dalam Qanun (undang-undang) Aceh nomor 11 tahun 2001. Hal ini sebenarnya tidak lepas dari respon pemerintah pusat terhadap Aceh yg sedang dilanda konflik saat itu. Aceh ingin memisahkan diri dari Indonesia karena “katanya” Aceh ingin menerapkan syariat Islam secara kaffah. Namun hal itu tidak bisa dilakukan selama Aceh masih berada di bawah payung hukum Indonesia. Makanya kemudian Aceh diberikan keistimewaan untuk bisa menerapkan syariat Islam demi meredam keinginan memisahkan diri, termasuk satu di dalamnya adalah kewajiban berjilbab.

Beberapa tahun sebelumnya di Aceh juga-sebagai mana propinsi lain terkena imbas kebijakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan semasa Orde Baru yg melarang siswi memakai jilbab di sekolah.

Jadi kita tidak akan heran kalau ternyata masih ada wanita Aceh yg alergi, gerah, atau mungkin asing terhadap jilbab. Karena mmg jilbab bukan merupakan kebiasaan masyarakat Aceh. Dalam suatu kali perjalanan ke Medan sy pernah bersama beberapa orang wanita Aceh, setelah sampai di perbatasan NAD-Sumut, jilbab langsung dilepas dan masuk tas. Jadi kewajiban memakai jilbab bagi mereka hanya di Aceh saja karena takut dirazia oleh Wilayatul Hisbah (Polisi Syariat).

Walau sy percaya bahwa tidak semua wanita Aceh seperti itu. Contoh di atas mungkin hanya oknum saja. Namun bila ditilik lebih jauh, memang masih sedikit yg memakai jilbab yg sesuai dengan standar syariat.

Ada beberapa jenis jilbab yg ada di Aceh :
1. Jilbab timphan
Timphan adalah nama salah satu kue tradisional khas Aceh. Kue ini berisi ketan yg di dalamnya ada kelapa manis dan dibungkus dgn daun pisang. Bungkusannya ini nampak ketat. Jilbab timphan adalah jilbab ketat atau full body pressed. Jilbab jenis ini banyak ditemukan pd anak2 SMU dan mahasiswa.

2. Jilbab Pakistan
Sy juga tidak tahu asal istilah ini dari mana. Siswa-siswa SMU disini mengatakan demikian. Jilbab jenis ini dinisbatkan pada jilbab dengan poni tetap kelihatan di atas dahi. Apa di Pakistan banyak jilbab seperti itu ?  Atau karena Benazir Bhutto sering berjilbab demikian?

3. Jilbab Rebonding
Jilbab jenis ini mungkin banyak dipakai oleh mereka yg suka me-rebonding rambut. Kerudungnya kecil dan pendek. Rambut yg di-rebonding tetap tergerai dan kelihatan dari belakang. Kan sayang kalau rambut yang sudah di-rebonding tidak dilihat oleh orang lain.

4. Jilbab syar’i
Jenis jilbab ini mungkin jarang ditemui. Jilbab ini sudah memenuhi standar syari’at yakni menutupi semua aurat, tidak ketat atau membentuk tubuh dan wananya tidak terlalu menyolok.

Iklan

3 Tanggapan

  1. Saya jadi tahu mengapa Aceh disebut serambi mekah.
    Jilbab dalam perjalanannya ternyata juga berproses ya, seperti pemahaman kita akan pilihan agama (Islam). Barangkali keduannya berjalan bersama atau berbanding sama dengan.
    Semakin banyaknya yang berjilbab mudah mudahan ini juga pertanda bahwa kesadaran itu semakin besar. Entah kesadaran akan kewajiban menjalankan perintah Allah atau kesadaran diri, bahwa berjilbab adalah sebuah “keindahan dan kemerdekaan” perempuan (muslimah).

    • baru satu hari saya meninggalkan kota banda aceh menuju kota tempat saya tinggal, tp begitu byk yang belum sempat saya perkenalkan kepada kedua buahati saya, hanya sebelum pulang kebanda saya berpesan dan sdh menyiapkan mereka pakaian yang sesuai dgn syiar islam, tp muncul pertanyaan dr kedua buah hati , “umi kok berjilbabnya kelihatan rambut, katanya serambi me’kah kok cara jilbabnya aneh’
      rasanya berjilbab bukan untuk mode tp mengikitu syiar islam, penjelasan seperti ini harus dgn bijak sehingga generasi muda dapat paham dan ikhlas memakai jilbab sesuai dgn syiar islam dan dari pengalaman kedua buah hati mereka mendapat sambutan positip dari yah nek, yah cut dan semua keluarga bahwa mereka benar2 anak aceh yang cantik dan manis ketika mereka mereka memakai jilbab…………dan itu membuat mereka ingin melanjutkan memakai jilbab setiba nanti dikota tempat tinggal kami nantinya

    • ass.ACEH ada syariat islam sejak waktu pahlawan an masa kerajan sdh berlaku syariat islam di aceh akan tetapi metode yg beda…bkn sj aceh di kenal sbg serambi akan tetapi bgaikan gudang ilmu di wilayah nusntara ini sebab islam lahir di tanah rencong ini pd ms khalifah usman abad ke 7 -8 mngkin perkmbangan penerapan syariat islam adnya kemunduran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: