Kloroquin harus masuk gudang?

Beberapa waktu lalu sy mengikuti workshop revisi Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) di Hotel Aston Bandung. Revisi MTBS ini dilakukan oleh Depkes dan difasilitasi oleh HSP-USAID. Saat pembahasan protokol penanganan pasien malaria, klorokuin dilikuidasi atau tidak dipakai lagi untuk terapi malaria vivax/ovale. Padahal satu bulan sebelumnya saat Training of Trainer (TOT) yang diadakan oleh Mentor Initiative dan Dinkes NAD, kloroquin masih merupakan obat lini pertama untuk malaria vivax/ovale.

Yah… Terpaksa kloroquin yang di puskesmas terancam digudangkan. Walaupun masih bisa digunakan untuk mengobati penyakit lain. Kalau memang sudah tidak efektif lagi dan sudah banyak malaria yang resisten terhadap kloroquin, kenapa tidak beralih ke obat lain yang lebih baik. Saya pernah minum obat malaria untuk profilaksis saat akan ke pulau Simeulue 3 tahun silam. Pahitnya minta ampun. Lagi pula obat penggantinya mungkin lebih baik (Artesunate dan amodiaquine) rasanya lebih baik-menurut pasien, walaupun kata mereka terlalu banyak (8 butir sekali minum). Tapi tidak apa-apa. Kalau tidak sembuh, ya,, kenyang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: